“Kokoh, Seperti Gunung di Palestina”

Akhir-akhir ini mata dunia tersorot pada seorang perempuan Palestina bernama Khalida Jarrar. Ia bukan seorang perempuan biasa. Hidupnya telah ia habiskan untuk memerdekakan Palestina meski ia jalani dengan tidak mudah. Dingin dan angkuhnya dinding penjara telah empat kali ia rasakan  sebagai buah dari perjuangan yang ia pilih.

Berbagai kisah duka berkelindan dalam hidupnya selama masa penahanan. Namun, yang paling menyakitkan tentu saat ia tidak diberikan kesempatan untuk melihat orang-orang yang teramat dicintainya untuk terakhir kali. Pertama, saat ibunya wafat, kemudian duka tersebut harus kembali ia rasakan beberapa hari lalu ketika anak perempuan bungsunya yang bernama Suha wafat secara tiba-tiba. Permintaan Jarrar untuk menghadiri prosesi pemakaman putrinya ditolak oleh Zionis Israel.

Meski jasadnya ditolak untuk hadir, tetapi cinta dan kerinduan kepada putri bungsunya, ia tuangkan ke dalam sebentuk puisi dan ia kirimkan bersama bunga.

July 13th, 2021

I am in so much pain, my child, only because I miss you.
I am in so much pain, my child, only because I miss you.

From the depths of my agony, I reached out and
embraced the sky of our homeland through the window
of my prison cell in Damon Prison, Haifa.
Worry not, my child.
I stand tall, and steadfast, despite the shackles and the jailer.
I am a mother in sorrow, from yearning to see you one last time.

This doesn’t happen except in Palestine.
All I wanted was to bid my daughter a final farewell.
With a kiss on her forehead and to tell her I love her
as much as I love Palestine.

My daughter, forgive me for not attending the celebration of your life,
that I was not beside you during this heart breaking and final moment.
My heart has reached the heights of the sky yearning to see you,
to caress and plant a kiss on your forehead through the
small window of my prison cell.

Suha, my precious.
They have stripped me from bidding you a final goodbye kiss.
I bid you farewell with a flower.
Your absence is searingly painful, excruciatingly painful.
But I remain steadfast and strong,
Like the mountains of beloved Palestine.

Kehilangan seorang anak adalah momen terkelam dalam hidup seorang ibu. Kata-kata tidak akan mampu menggambarkan sakit dan getirnya sebab tinta tak akan sanggup menuangkan rasa sesungguhnya. Namun, melalui puisinya, kita dapat merasakan betapa beratnya penderitaan yang dirasakan Jarrar sebagai seorang ibu yang berkomitmen untuk membela tanah airnya, Palestina. Ia tidak hanya harus kehilangan banyak momen bersama anak-anaknya dalam masa-masa tersulit mereka, tetapi juga tidak memiliki kesempatan untuk bertemu mereka untuk terakhir kalinya.  Meski demikian, kecintaan Jarrar dan juga para ibu Palestina lainnya terhadap tanah airnya, menyamai kecintaan mereka terhadap anak-anak mereka sendiri. Maka kedukaan itu tidak pernah menjadi alasan yang menyurutkan langkah mereka dalam memperjuangkan Palestina. Bagaimana pun, memperjuangkan tanah air, tanah tumpah darah, tanah tempat bertumbuhnya segala cinta dan kehidupan, berarti juga memperjuangkan masa depan orang-orang yang dicinta.

Jarrar tidak sendirian. Ada 41 orang tawanan perempuan Palestina yang hingga saat ini masih ditahan. Mereka tidak hanya tersiksa karena harus berada di dalam penjara padahal tidak melakukan  tindak kriminal, tetapi juga mengalami kekerasan verbal hingga fisik. Zionis Israel tidak membedakan antara tawanan perempuan ataupun laki-laki.[1] Bahkan Israel juga melakukan kekerasan berdasarkan gender untuk mempermalukan mereka.[2]

“…. This doesn’t happen except in Palestine…..” Yang ditulis oleh Jarrar begitu pilu untuk dibayangkan; bahwa satu-satunya sebab dari perlakuan yang ia harus terima tak lain tak bukan karena ia bangsa Palestina. Luka, duka, hingga derita, harus ia tempuh di balik jeruji, hanya karena ia seorang Palestina.  Demikian pula perempuan Palestina lainnya; mereka yang dibatasi dinding penjara, atau mereka yang harus kehilangan rumahnya akibat kebijakan penghancuran rumah oleh Zionis Israel, juga mereka yang hidupnya disengsarakan sebab berkebangsaan Palestina. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa politik Apartheid-lah yang menjadi landasan Zionis Israel untuk menyiksa mereka.

Bagi Ziomis Israel, kebijakan-kebijakan keji semacam itu dianggap mampu mematahkan arang seorang ibu dan membungkamnya. Namun, Jarrar menolak kalah. Ia, tulisnya, akan tetap berdiri kokoh, seperti gunung-gunung di Palestina. Demikian pula dengan para perempuan lain di Palestina. Mereka yang menjadi barisan perempuan penjaga Al Aqsa, mereka yang memilih jalur sebagai jurnalis, mereka yang saat ini terpenjara karena memperjuangkan kemerdekaan Palestina, dan perempuan-perempuan lain di Palestina dengan apa pun peran yang tengah dimainkan, akan selalu kuat seperti gunung-gunung di tanah air mereka. Mereka berhadapan dengan politik Apartheid atau pun ethnic cleansing, tetapi itu semua tidak akan mampu membuat kaki mereka bergeser meski sekejap untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

 

Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.

Penulis merupakan Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.

 

[1] Fitriyah Nur Fadilah. “Kekerasan terhadap Tawanan Perempuan Palestina.” Diakses dalam https://adararelief.com/kekerasan-terhadap-tahanan-perempuan-palestina-part-2/

[2] Yuri Hawari, “Whats behind Israel Crackdown Palestinian Prisoners.” Diakses dalam https://www.middleeasteye.net/opinion/whats-behind-israels-crackdown-palestinian-prisoners

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Leave a Reply