Tiga tahun agresi membuat warga Gaza terjebak dalam pengungsian berkepanjangan. Bagi banyak warga Gaza, tenda yang awalnya merupakan hunian sementara kini menjadi tempat tinggal.
Kisah Um Anas al-Batniji di Al-Mawasi, Khan Yunis, mencerminkan realitas pahit tersebut. Ia bersama keluarganya terpaksa tinggal di dalam tenda. Ia menyimpan kerinduan mendalam untuk kembali memiliki sebuah rumah yang layak, lengkap dengan pintu, akses air bersih, fasilitas kamar mandi, dan aliran listrik.
Kondisi serupa dialami banyak warga Gaza. Sekitar 1,9 juta dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi pada pertengahan 2026. Selain itu, kerusakan rumah membuat kepulangan semakin sulit. Hingga Agustus 2026, sekitar 107.941 unit rumah mengalami kerusakan parah atau tidak layak huni.
Sementara itu, kehidupan di tenda menghadirkan persoalan lain. Panas musim panas membuat tenda pengap, sedangkan hujan dan angin musim dingin mengancam keselamatan penghuninya.
Baca juga: 3 Tahun Genosida Perempuan Gaza : 38.000 Korban Jiwa dan Keguguran Meningkat
Krisis air juga memperburuk kondisi warga Gaza. UNICEF menyebut sekitar 82 persen rumah tangga menghadapi kerawanan air. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 70 persen rumah tangga bahkan tidak mampu memperoleh pasokan air minimal, yaitu enam liter per orang setiap hari.
Sementara itu, kehancuran sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza menyebabkan penumpukan sampah, kekurangan fasilitas toilet yang layak, serta penyebaran penyakit melalui tikus dan serangga.
Pada saat yang sama, layanan medis juga tetap terbatas. WHO mencatat hanya 19 dari 36 rumah sakit Gaza yang masih berfungsi sebagian pada September 2026. Akan tetapi, tidak satu pun rumah sakit beroperasi dengan kapasitas penuh.
Kini, warga Gaza bersiap menghadapi musim dingin ketiga di tenda. Mereka berusaha memperkuat tenda menggunakan terpal, kayu, logam, dan paku, meskipun akses terhadap material dasar ini semakin sulit dijangkau akibat blokade dan kehancuran ekonomi.
Bagi warga Gaza, sebuah rumah bukan lagi sekadar tempat berteduh. Rumah telah menjadi simbol impian akan keamanan, privasi, akses air bersih, dan ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dan hidup dengan layak. Harapan utama mereka saat ini hanyalah satu: kembali memiliki sebuah rumah.
Sumber: Palinfo








