Pasukan Israel menembak seorang siswi Gaza saat berada di dalam kelas di Gaza utara. Insiden ini merupakan bentuk pelanggaran terbaru dalam gencatan senjata. Korban bernama Ritaaj Rihan, seorang anak berusia 9 tahun. Israel menembaknya saat sedang ia duduk di bangkunya, di Sekolah Abu Ubaida bin al-Jarrah.
Kementerian Pendidikan Palestina menyatakan bahwa penembakan siswi Gaza itu terjadi di hadapan teman-teman sekelasnya. Hal tersebut memicu kepanikan dan trauma psikologis mendalam di antara para siswa. Korban sempat mendapatkan pertolongan di Rumah Sakit Al-Shifa dalam kondisi kritis. Namun, ia meninggal dunia setelah upaya penyelamatan tidak berhasil.
Insiden terjadi di ruang belajar darurat berupa tenda. Warga menggunakan tenda sebagai akibat dari kerusakan fasilitas pendidikan selama agresi genosida. Pihak kementerian menyebut penembakan ini sebagai “kejahatan brutal”. Mereka menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan kasus terisolasi, melainkan bagian dari pola kekerasan yang berulang.
Mereka juga menilai Israel bertanggung jawab penuh atas insiden tersebut dan memperingatkan bahwa diamnya komunitas internasional merupakan bentuk pembiaran.
Data dari otoritas kesehatan Gaza menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025, sedikitnya 700 lebih warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 2.000 lainnya terluka akibat serangan yang terus berlangsung.
Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 170.000 lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar infrastruktur Gaza, termasuk fasilitas pendidikan, juga mengalami kerusakan parah.
Insiden ini menyoroti dampak langsung agresi terhadap anak-anak, yang tetap menjadi kelompok paling rentan di tengah kekerasan yang terus berlanjut meski gencatan senjata telah diberlakukan.








