Pada peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, 3 Mei, jurnalis Palestina di Gaza mengenang lebih dari 262 pekerja media yang terbunuh sejak Oktober 2023, dalam salah satu periode paling mematikan bagi jurnalis.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut angka tersebut sebagai bukti “taktik sistematis” untuk membungkam suara Palestina. Selain korban terbunuh, sedikitnya 50 jurnalis ditahan, tiga masih hilang, dan lebih dari 420 terluka, termasuk mengalami disabilitas permanen.
Himpunan Jurnalis Palestina menyebut situasi ini sebagai “pembantaian jurnalis terbesar dalam sejarah.” Sementara itu, Reporters Without Borders menempatkan Palestina sebagai wilayah paling berbahaya bagi jurnalis dalam Indeks Kebebasan Pers 2025. Mereka menyoroti kondisi jurnalis Gaza yang kekurangan perlindungan, makanan, dan air.
Laporan Watson Institute for International and Public Affairs menyatakan jumlah jurnalis yang terbunuh di Gaza melampaui gabungan jumlah jurnalis yang menjadi korban dalam sejumlah perang besar modern, termasuk Perang Dunia dan Vietnam.
Di tingkat global, Komite Perlindungan Jurnalis menilai situasi ini menunjukkan kemunduran serius dalam perlindungan jurnalis di zona konflik. Kepala CPJ, Jodie Ginsberg, menyebut dampaknya “belum pernah terjadi sebelumnya.”
Federasi Jurnalis Internasional juga menggambarkan periode ini sebagai salah satu yang terburuk bagi profesi jurnalisme. Mereka sekaligus mengutuk pembunuhan jurnalis yang terjadi “di depan mata dunia.”
Meski demikian, komunitas jurnalis Palestina menegaskan bahwa kekerasan tidak akan menghentikan mereka untuk terus mendokumentasikan realitas di lapangan dan menyampaikan kebenaran kepada dunia.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)