Indonesia menyatakan sedang bersiap mengirim hingga 8.000 tentara ke Gaza. Ribuan tentara tersebut akan menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian di bawah rencana Timur Tengah Donald Trump.
Pengumuman oleh Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang memberikan komitmen spesifik terhadap pasukan stabilisasi internasional (ISF). Pasukan tersebut rencananya akan menjadi bagian dari fase kedua rencana Trump.
Indonesia Siapkan Ribuan Tentara untuk “Pasukan Stabilisasi Internasional”
Radio publik Israel melaporkan pada Selasa pagi (10/02) bahwa Israel telah menetapkan lokasi barak untuk tentara dari Indonesia. Barak tersebut terletak di Gaza selatan, antara Rafah dan Khan Younis.
Israel mengatakan bahwa mereka berencana menugaskan tentara Indonesia untuk mengamankan koridor kemanusiaan dan membantu pengaturan administrasi sipil di zona evakuasi. Hal tersebut hanya akan terjadi setelah penarikan kembali pasukan Israel.
Akan tetapi, Jakarta menolak klaim tersebut. Mereka mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan area penempatan geografis apa pun. Selain itu, Indonesia hanya akan berpartisipasi di bawah mandat hukum internasional yang jelas dan jaminan perlindungan warga sipil.
Kedatangan pasukan penjaga perdamaian Indonesia di Gaza akan menjadi peristiwa bersejarah. Jika terjadi, mereka akan menjadi pasukan asing pertama di wilayah tersebut sejak 1967.
Maruli mengatakan ia memperkirakan satu brigade tentara, antara 5.000 hingga 8.000 pasukan, akan dikirim, tetapi ia menekankan bahwa misi tersebut masih dalam tahap perencanaan. “Semuanya masih dalam tahap negosiasi, belum pasti. Jadi belum ada kepastian mengenai jumlahnya hingga saat ini,” kata Maruli.
Peran potensial pasukan internasional masih belum jelas sejak Trump menyarankan hal itu sebagai bagian dari rencana gencatan senjatanya pada September tahun lalu. Negara-negara yang ia usulkan untuk menyumbangkan pasukan, termasuk Indonesia, enggan menempatkan pasukan mereka untuk mencoba melucuti senjata Hamas atas nama Israel.
Para pejabat Indonesia mengindikasikan bahwa tentara yang akan mereka kirimkan sebagian besar akan terdiri dari unit-unit teknik dan medis. Mereka menekankan bahwa para tentara lebih berfokus pada pekerjaan kemanusiaan dan rekonstruksi daripada operasi tempur.
“Kami telah mulai melatih orang-orang yang berpotensi menjadi pembawa perdamaian. Jadi, kami sedang mempersiapkan unit-unit teknik dan kesehatan seperti itu,” pungkas Maruli.
Indonesia dalam “Dewan Perdamaian”: Pertaruhan Diplomatik yang Serius
Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, sebelumnya telah setuju untuk bergabung dengan “Dewan Perdamaian” (BoP). Dewan ini merupakan himpunan pemimpin dunia di bawah pimpinan Trump. Mereka bertugas mengawasi proses perdamaian di Gaza, dan berpotensi juga di zona konflik lainnya di seluruh dunia. Pertemuan penuh pertama dewan tersebut terjadwal pada Kamis pekan depan, dan Prabowo telah mendapatkan undangan.
Ketika rencana perdamaian pertama kali diumumkan September lalu, Prabowo mengajukan tawaran awal 20.000 pasukan untuk ISF. Presiden dan mantan jenderal angkatan darat ini sangat ingin meningkatkan citra Indonesia di panggung dunia. Namun, ada kekhawatiran di antara beberapa pengamat Indonesia bahwa negara ini dapat terlibat dalam situasi yang tidak dapat mereka kendalikan.
“Pada akhirnya, keputusan Indonesia untuk bergabung dengan [dewan perdamaian] Trump adalah pertaruhan diplomatik. Ini hanya bermanfaat jika menghasilkan pengaruh nyata dan bukan sekadar simbolisme,” demikian bunyi sebuah komentar di Jakarta Globe. Hal ini hanya akan terjadi jika Indonesia dapat membantu tanpa dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain. Namun, komentar itu menambahkan: “Jika tidak, Indonesia berisiko menjadi bagian dari masalah diplomatik yang lebih besar daripada konflik yang ingin mereka akhiri.”
Sumber: Middle East Eye, Middle East Monitor, The Palestine Chronicle, The Guardian








