Warga Gaza sekali lagi berbondong-bondong ke pasar untuk membeli makanan apa pun yang mampu mereka beli. Sebab, perang regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus mengguncang Gaza yang bergantung pada bantuan dan jalur perdagangan yang rapuh. Warga dan pedagang mengatakan harga telah melonjak hanya dalam beberapa hari. Dalam kondisi tersebut, beberapa bahan pokok menjadi langka atau menghilang sama sekali.
Melaporkan dari Kota Gaza, Hani Mahmoud dari Al Jazeera mengatakan bahwa “eskalasi terbaru terasa secara langsung melalui berkurangnya pasokan dan pengetatan akses di perbatasan”. Di pasar-pasar lokal, para pembeli berusaha mendapatkan makanan sebelum stok menipis. Mereka khawatir apa pun yang tersedia hari ini mungkin tidak akan ada lagi besok.
Kekhawatiran itu sangat beralasan sebab pengiriman ke Gaza harus melalui perbatasan dengan Israel dan Mesir. Hampir semua makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya masuk ke wilayah tersebut dengan truk. Ketika perbatasan tersebut tutup atau beroperasi dengan kapasitas terbatas, dampaknya dengan cepat terasa di pasar, rumah sakit, dan sistem air.
Baca juga : “Harga Pangan di Gaza Melonjak Lebih dari 700 Persen“
Israel menutup perlintasan Gaza pada 28 Februari, ketika pasukan Israel dan AS menyerang Iran. Mereka menghentikan akses kemanusiaan yang masuk dan keluar Gaza serta pergerakan pasien yang membutuhkan evakuasi medis. Israel kemudian membuka kembali perlintasan Karem Abu Salem untuk “masuknya bantuan secara bertahap”, tetapi tetap ada pembatasan akses. Perlintasan Rafah dengan Mesir hingga kini juga masih tetap tertutup. Lembaga-lembaga bantuan mengatakan bahwa volume bantuan saat ini jauh di bawah jumlah yang penduduk butuhkan.
Hanan Balkhy, direktur regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Mediterania Timur, mengatakan pada pekan ini bahwa hanya sekitar 200 truk per hari yang memasuki Gaza. Sementara, untuk mendukung kebutuhan populasi wilayah tersebut memerlukan 600 truk per hari yang memasuki Gaza. Dia juga mengatakan sekitar 18.000 orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien dengan penyakit kronis, masih menunggu evakuasi.
Kantor kemanusiaan PBB, OCHA, mengatakan pada 6 Maret bahwa penutupan perbatasan “dalam konteks eskalasi regional” telah membuat harga makanan dan barang-barang lainnya di seluruh Gaza melonjak. Mereka mengatakan bahwa laju masuknya truk saat ini terlalu rendah untuk mendukung pengisian kembali stok, yang terjual habis dalam beberapa hari.
Situasi ini lebih buruk dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Pemantauan pasar Program Pangan Dunia (WFP) untuk bulan Februari menunjukkan beberapa peningkatan ketersediaan pangan dan harga yang lebih rendah untuk bahan pokok tertentu dibandingkan dengan fase-fase awal genosida. Namun, menurut WFP, penutupan perbatasan pada pekan lalu telah memicu kenaikan harga pangan yang tajam, dan meskipun beberapa penyeberangan telah terbuka kembali, harga tetap tinggi.
Dengan akses yang masih terbatas, keluarga-keluarga di seluruh Gaza menghadapi ketidakpastian yang semakin besar. Mereka terus khawatir mempertanyakan apakah pasokan makanan pokok dapat bertahan dalam beberapa hari mendatang.
Sumber: Al Jazeera








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)