Seorang perempuan hamil dan dua anaknya terbunuh dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal di Beit Lahia, Gaza utara, pada Sabtu (25/04). Pihak yang mengidentifikasi korban merupakan suami sekaligus ayah mereka, Khaled El-Tanani. Ia mengatakan bahwa keluarganya mengira lokasi tersebut merupakan area aman.
Ia menambahkan bahwa serangan terjadi saat gencatan senjata masih berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa warga sipil tetap berada dalam ancaman meski ada kesepakatan gencatan senjata. Sementara itu, salat jenazah bagi para korban berlangsung di Rumah Sakit Al-Shifa.
Baca juga : “Dari Tiang Gantungan Inggris 1930 hingga Meja Legislasi Israel Hari Ini, Eksekusi Tidak Membungkam Palestina”
Insiden ini terjadi di tengah berlanjutnya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025. Agresi genosida yang sebelumnya berlangsung selama dua tahun telah membunuh lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Pada 14 April, Kantor Media Gaza melaporkan sekitar 2.400 pelanggaran gencatan senjata, termasuk pembunuhan, penangkapan, blokade, dan aturan yang menyebabkan kelaparan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pelanggaran tersebut telah mengakibatkan 972 korban jiwa dan 2.235 orang terluka.
Baca juga : “Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan”
Pada 14 April, Kantor Media Gaza melaporkan sekitar 2.400 pelanggaran gencatan senjata, termasuk pembunuhan, penangkapan, blokade, dan aturan yang menyebabkan kelaparan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pelanggaran tersebut telah mengakibatkan 972 korban jiwa dan 2.235 orang terluka.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)