fbpx

Delegasi Indonesia Hadiri Konferensi Aktivis Perempuan Baitul Maqdis International Virtual “Palestina Kompas (Perjuangan)-ku”

(HARI PERTAMA)

 

Global Women Coalition for Al Quds and Palestine mengadakan Konferensi Aktivis Perempuan Palestina International untuk mengembalikan arah dan semangat perjuangan Palestina di masa pandemi ini. Acara dengan bentuk seminar dan workshop virtual ini mengusung tema “Palestina Kompas (Perjuangan)-ku”.
Dilaksanakan pada tanggal 26-27 Juni 2020 dan dihadiri oleh 32 negara. Dalam Konferensi tersebut Indonesia mengikutsertakan sekitar 120 orang dari berbagai kalangan.

Acara dibuka secara live di Komplek Masjidil Aqsa sekaligus memperkenalkan kepada peserta beberapa bagian yang ada di Al Aqsa. Dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh Dr. Akram Adlouni (Ketua I’tilaf Pusat), Dr. Umaimah Tijani (Ketua I’tilaf Perempuan), Claude Leostic (Aktivis HAM Perancis) dan Hanady Halawani (Aktivis Palestina).

Konferensi Internasional online ini menghadirkan beberapa pembicara, yang pertama adalah Aminah Taweel, spokeperson untuk perempuan di penjara. Dalam kesempatan ini Aminah menyampaikan bahwa penangkapan dan penawanan perempuan Palestina adalah strategi yang disusun secara sistematis oleh Israel untuk mengurangi keterlibatan perempuan dalam perjuangan menentang penjajahan serta keikutsertaan mereka dalam menjaga Masjidil Aqsa. “Peran kita saat ini adalah mendukung penuh perempuan Palestina karena mereka adalah titik penting dalam perjuangan Palestina”, tuturnya.

Pembicara kedua dalam seminar ini adalah Zainah Amr, yang menyampaikan tentang situasi dan kondisi perempuan Al Quds. “Perempuan dan anak menjadi target utama Zionis Israel. Penderitaan mereka sangat jelas, Israel terus menyerang dan menghancurkan rumah, keluarga agar mereka ketakutan, bahkan Israel tak segan menyerang anak dan suaminya, merusak masa depan anak-anak mereka dengan menyebarkan narkoba dan terus menjauhkan mereka dari isu Palestina dan Masjidil Aqsa”, ujarnya.

Seminar ketiga disampaikan oleh Nawras, salah seorang seniman Palestina. Nawras mengatakan bahwa media entertainment kita harus bisa menyuarakan hak-hak dan realita Palestina. “Kita bukan mencari ketenaran atau penghargaan piala Oscar, namun kita menyuarakan kebenaran lewat seni dan budaya agar dunia semakin jelas dalam memahami persoalan Palestina yang sebenarnya”, pungkasnya.

Di penghujung penutupan seminar hari pertama pada jam 22.00 WIB, diadakan Launching program Bashmah. Program ini dimaksudkan untuk mengusung cultural, personal skills, administratif skills, leadership skills, dan practical action bagi generasi muda.

Acara ini didukung oleh Asia Pacific WCQP dan African WCQP. Adara Relief International merupakan anggota aktif ApWCQP yang juga diketuai oleh Nurjanah Hulwani S.Ag., ME.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas