Komite Internasional Palang Merah (ICRC) memperingatkan bahwa krisis kemanusiaan Gaza masih berada pada kondisi katastrofis. Organisasi itu mendesak masyarakat internasional untuk memperkuat bantuan dan membuka akses evakuasi medis bagi pasien yang membutuhkan perawatan khusus.
Direktur Jenderal ICRC, Pierre Krähenbühl, secara terbuka menggambarkan kondisi kehidupan di Gaza sebagai “neraka di bumi”. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam keterangannya pada Selasa (20/10/2026). Ia menyoroti penderitaan tak berkesudahan yang menimpa jutaan warga Palestina akibat kelangkaan parah layanan kesehatan. Tak hanya itu, warga Palestina juga menderita karena krisis air bersih yang meluas, serta ketiadaan tempat bernaung yang layak.
Banyak keluarga masih bertahan di tenda dengan kondisi sulit dan ketidakpastian mengenai keselamatan mereka. Selain itu, keluarga warga Palestina yang hilang terus menanggung kecemasan karena belum mengetahui nasib kerabatnya. Sebagian korban kemungkinan besar masih tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur.
Saat ini ICRC terus mengoperasikan rumah sakit lapangan (field hospital) di Gaza guna menyediakan layanan persalinan darurat, konsultasi medis umum, dan tindakan pembedahan penyelamatan jiwa. Tim teknik ICRC juga terus berpacu dengan waktu memulihkan infrastruktur pengolahan air bersih yang rusak. Tujuannya tak lain adalah untuk menekan risiko krisis penyakit menular.
Namun, Krähenbühl menegaskan bahwa kerja keras seluruh organisasi kemanusiaan di lapangan saat ini hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari total kebutuhan nyata warga. Oleh karena itu, bantuan logistik semata tidak akan mampu menyelesaikan krisis jika tidak berlangsung dengan adanya keberanian dan tindakan politik nyata dari negara-negara dunia.
ICRC menggarisbawahi urgensi pembukaan koridor evakuasi medis yang aman dan berkelanjutan. Pasien yang membutuhkan layanan medis khusus, tetapi tidak dapat memperolehnya di Gaza, harus mendapat izin untuk menjalani evakuasi medis ke luar wilayah tersebut. Tanpa akses pengobatan yang memadai dan tindakan politik yang berarti, warga Palestina akan terus menghadapi risiko kesehatan serta kemanusiaan yang serius.
Sumber: MEMO








