Ancaman bencana kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memuncak seiring datangnya musim dingin. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa sekitar 950.000 pengungsi Palestina menghadapi risiko banjir sedang hingga tinggi.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan, persediaan bantuan hanya mampu mencakup sekitar 18 persen dari total 294.250 keluarga yang membutuhkan perlindungan selama musim hujan.
Sementara itu, lebih dari 800.000 pengungsi tinggal di tenda yang tidak layak huni. Lebih dari 60% tenda pengungsi juga mengalami kerusakan dan membutuhkan penggantian segera. Akibatnya, hujan musim dingin mengancam keselamatan warga yang bertahan di tempat penampungan sementara.
Mantan Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, turut memperingatkan bahwa penduduk Gaza menghadapi ancaman kehancuran. Ia mendesak masyarakat internasional segera bertindak agar nasib warga Gaza tidak menyerupai penduduk asli Amerika.
Baca juga: WFP Pangkas Bantuan Pangan Gaza untuk 500.000 Warga Palestina
Di sisi lain, krisis Gaza semakin parah akibat menyusutnya bantuan kemanusiaan. Pada bulan ini, program Pangan Dunia (WFP) mengurangi penerima bantuan dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang. Akibatnya, sekitar 500.000 warga Palestina kehilangan bantuan yang sebelumnya mereka terima.
UNICEF juga memperingatkan bahwa sekitar 800.000 anak masih mengungsi dan tinggal di tempat tidak aman. Data kesehatan UNICEF mengonfirmasi bahwa satu dari delapan balita di Gaza kini mengidap malnutrisi kronis.
Selain ancaman banjir, serangan Israel masih merenggut nyawa warga Palestina meski kesepakatan gencatan senjata telah berlaku setahun. Lebih dari 1.500 warga Palestina terbunuh sejak kesepakatan tersebut berlaku.
Karena itu, PBB dan organisasi kemanusiaan mendesak masyarakat internasional mempercepat bantuan, melindungi warga sipil, dan membuka akses bantuan tanpa hambatan. Tanpa tindakan nyata, krisis kemanusiaan di Gaza akan terus mengancam kehidupan jutaan warga Palestina.








