JAKARTA — Pada 13 September 2026, sebanyak 32 perempuan pengungsi Palestina berhasil menyetorkan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam sekali duduk. Kegiatan ini berlangsung di Kamp Al-Jalil, Baalbek, Lebanon. Dua di antara peserta tersebut merupakan anak-anak binaan program Hidupkan Ahlul Qur’an Adara yang masih berusia 12 dan 14 tahun.

Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka dalam menghafal, mengulang, dan menjaga ayat-ayat Allah, dua hari setelah menyelesaikan setoran hafalan tersebut, ke-32 perempuan ini mendapatkan penghargaan melalui penyelenggaraan Wisuda Akbar pada 16 September 2026.
Wisuda Akbar ini digelar di Kamp Al-Jalil, Baalbek, Lebanon, dan dihadiri sekitar 350 orang. Mereka terdiri dari para penghafal Al-Qur’an, syekh, musyrifah, serta warga sekitar yang turut meramaikan perhelatan penuh makna tersebut.
Salah satu hal istimewa dalam Wisuda Akbar ini adalah kehadiran dua peserta termuda, yaitu kakak beradik binaan program Hidupkan Ahlul Qur’an Adara. Mereka adalah Lana an-Naji yang berusia 12 tahun dan kakaknya, Lamis an-Naji, yang berusia 14 tahun. Di usia yang masih belia, keduanya telah menunjukkan ketekunan luar biasa dalam menghafal dan menjaga firman Allah.

Namun, semangat menghafal Al-Qur’an tidak hanya tumbuh di kalangan anak-anak dan generasi muda. Seorang perempuan berusia 68 tahun, Shafiyyah Kayed, turut menyemarakkan gema Al-Qur’an di tengah kehidupan pengungsian. Usia tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berjuang hingga berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Gema takbir bersahut-sahutan mengiringi langkah para wisudawati Palestina. Di tengah kehidupan pengungsian yang penuh keterbatasan dan kondisi yang meminggirkan mereka, semangat untuk terus belajar, berkarya, dan mendekatkan diri kepada Allah tidak pernah padam. Menghafal 30 juz Al-Qur’an menjadi salah satu persembahan paling berharga yang dapat mereka berikan bagi keluarga dan bangsa Palestina.
Momen haru turut mewarnai penyelenggaraan Wisuda Akbar tersebut. Para wisudawati menghadiahkan tanaman kurma kepada guru-guru mereka sebagai simbol pertumbuhan dan perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Hadiah ini menjadi ungkapan terima kasih atas ilmu, bimbingan, serta dedikasi para pengajar Al-Qur’an yang telah mengantarkan mereka hingga mencapai tahap tersebut.

Rangkaian Wisuda Akbar ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para hafidzah. Sebanyak 31 penghargaan diserahkan dalam acara tersebut, sementara satu penghargaan lainnya diwakili oleh putra penerimanya. Salah seorang hafidzah berhalangan hadir karena harus merawat suaminya yang menderita kanker.

Terima kasih, Sahabat Adara, atas dukungan yang terus mengalir bagi rakyat Palestina, baik yang berada di tanah air mereka sendiri maupun yang hidup di pengungsian. Dukungan dan kepedulian Sahabat Adara menjadi bagian dari harapan mereka untuk terus bertahan, menjaga iman, dan merawat cita-cita di tengah keputusasaan akibat penjajahan dan pengusiran.


Di tengah segala keterbatasan, lantunan ayat suci Al-Qur’an menjadi bukti bahwa semangat dan harapan rakyat Palestina akan terus hidup.








