Jurnalis Palestina sekaligus tahanan administratif, Bushra al-Tawil, dilaporkan telah menjalani masa isolasi selama 46 hari berturut-turut. Sejumlah organisasi hak tawanan Palestina mendesak penghentian praktik isolasi tersebut serta menuntut pembebasannya.
Pada Rabu (7/10), Palestinian Prisoner Society, Addameer, dan Komisi Urusan Tahanan Palestina mengungkap kondisi Bushra al-Tawil. Mereka menyebut otoritas penjara Israel berulang kali memindahkannya ke sel isolasi.
Awalnya, Bushra al-Tawil menjalani isolasi di Penjara Damon, Haifa. Setelah itu, otoritas Israel memindahkannya ke Penjara Neve Tirza. Kini, Bushra al-Tawil berada di sel isolasi Ohalei Oz, Beersheba.
Pemindahan berulang tersebut juga menghambat akses hukumnya. Pengacara Bushra al-Tawil telah mengajukan beberapa permintaan kunjungan. Namun, pemindahan kembali menggagalkan jadwal kunjungan tersebut.
Baca juga: 3 Tahun Genosida Perempuan Gaza : 38.000 Korban Jiwa dan Keguguran Meningkat
Organisasi tawanan Palestina meminta Komite Internasional Palang Merah dan lembaga internasional lainnya segera bertindak. Menurut organisasi tersebut, kasus Bushra al-Tawil mencerminkan peningkatan praktik isolasi terhadap tawanan Palestina, termasuk perempuan. Mereka menyebut praktik tersebut semakin sistematis dalam beberapa bulan terakhir.
Aturan Nelson Mandela PBB melarang isolasi berkepanjangan. Berdasarkan aturan tersebut, isolasi didefinisikan sebagai penahanan tanpa adanya kontak manusia yang bermakna selama 22 jam atau lebih setiap hari. Sementara, praktik isolasi berkepanjangan berlangsung lebih dari 15 hari berturut-turut. Oleh karena itu, 46 hari isolasi yang Bushra al-Tawil hadapi telah melampaui batas tersebut.
Bushra al-Tawil telah menjalani penahanan administratif tanpa dakwaan sejak Februari. Organisasi hak tawanan terus menuntut agar ia dibebaskan dan praktik isolasinya segera diakhiri.
Menurut kelompok hak asasi Palestina dan Israel, sekitar 9.500 warga Palestina kini berada dalam penjara Israel. Jumlah tersebut mencakup sekitar 90 perempuan dan lebih dari 350 anak.
Sumber: MEMO








