Reem Jadallah, perempuan asal Gaza, sempat kehilangan harapan setelah tunangannya, Hamada al-Banna, dikabarkan wafat di penjara Israel. Namun, kabar itu ternyata keliru. Hama dan nyatanya masih hidup setelah menghilang selama hampir setahun akibat penahanan paksa oleh tentara Israel.
Kisah ini bermula pada Agustus 2025. Saat itu, Hamada pergi ke kawasan Zikim, Gaza utara, untuk mengambil bantuan pangan bersama saudaranya. Tentara Israel kemudian menembakkan peluru ke arahnya hingga ia pingsan dan mengalami koma selama enam bulan. Setelah siuman, tentara memindahkannya ke penjara Sde Teiman. Di sana, ia mengalami penyiksaan berat selama berbulan-bulan.
Baca juga: “94 Perempuan Tawanan Palestina Alami Kekerasan di Penjara, Dua Di Antaranya Sedang Hamil”
Sementara itu, keluarga Hamada kehilangan kontak dengannya. Mereka bahkan sempat menerima informasi bahwa tunangan Reem itu telah wafat akibat penyiksaan. Meski begitu, Reem menolak menyerah. Ia menjual seluruh perhiasannya untuk menyewa pengacara demi mencari kejelasan nasib tunangannya. Ia juga mendatangi setiap tawanan yang dibebaskan untuk menanyakan keberadaan Hamada.
Setelah pencarian panjang, kabar baik akhirnya datang. Pada 7 Juli 2026, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menghubungi keluarga Hamada dan mengabarkan bahwa ia telah bebas. Reem pun bergegas menemui tunangannya yang selama ini ia rindukan.
Namun, pertemuan itu tidak sepenuhnya membahagiakan. Reem mendapati sang tunangan berubah drastis akibat trauma penahanan. Hamada kerap melamun, mudah marah, dan tidak bisa tidur dalam posisi berbaring. Selain itu, rencana pernikahan mereka pun tertunda karena kondisi ekonomi yang sulit.
Meski demikian, Reem mengaku tetap bersyukur. Baginya, kembalinya sang tunangan jauh lebih berarti dibanding kehilangan materi apa pun.
Kasus Hamada hanyalah satu dari ribuan warga Gaza yang tercatat hilang sejak 2023. Sebagian besar nasib mereka masih belum jelas hingga kini.
Sumber: MEE







