Anak-anak Palestina menghadapi risiko yang semakin besar, setelah organisasi kemanusiaan dan pembela hak asasi manusia terpaksa menghentikan atau mengurangi aktivitas mereka di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Gaza dan Tepi Barat.
Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kondisi tersebut membuat anak Palestina semakin kehilangan perlindungan. Komite juga mengecam langkah Israel yang melabeli sejumlah organisasi masyarakat sipil dan pembela HAM sebagai “teroris”.
Menurut komite, tindakan pembatasan dari Israel meliputi penggerebekan militer, larangan bepergian, sanksi keuangan, ancaman penangkapan, penghancuran dokumen, hingga tekanan terhadap pihak yang mendukung kerja organisasi tersebut. Akibatnya, banyak lembaga yang selama ini membantu anak Palestina terpaksa mengurangi layanan mereka. Ini terjadi karena mereka menghadapi intimidasi, ancaman, larangan, dan serangan Israel.
Baca juga: “265 Anak Gaza Terbunuh Saat Gencatan Senjata, UNICEF Desak Lembaga Internasional Segera Bertindak”
Selama lebih dari tiga dekade, organisasi-organisasi tersebut berperan penting dalam membela hak anak Palestina, termasuk mendampingi mereka di pengadilan militer Israel serta mendokumentasikan berbagai pelanggaran yang pasukan Israel lakukan terhadap anak-anak. Komite PBB menegaskan bahwa tanpa kehadiran mereka, anak Palestina akan semakin rentan terhadap pelanggaran HAM. Selain itu, berbagai pelanggaran berisiko terus terjadi tanpa pertanggungjawaban yang memadai.
Komite mendesak Israel segera mencabut pembatasan terhadap pembela hak anak dan organisasi kemanusiaan. Komite juga meminta masyarakat internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas tindakan yang menargetkan para pembela HAM Palestina.








