Sebuah laporan investigasi mendalam yang mengungkap dugaan penargetan anak-anak di Gaza oleh pasukan Israel meraih European Press Prize 2026. Itu merupakan salah satu penghargaan jurnalisme paling bergengsi di Eropa.
Laporan berjudul “What the Wounds Tell” tersebut merupakan karya jurnalis harian Belanda Maud Effting dan Willem Feenstra dari surat kabar De Volkskrant.
Dalam investigasinya, kedua jurnalis mendokumentasikan 114 kasus anak berusia di bawah 15 tahun yang mengalami satu luka tembak di kepala atau dada. Hampir seluruh korban meninggal dunia atau mengalami cacat permanen.
Dalam pernyataannya, penyelenggara European Press Prize memuji laporan tersebut sebagai karya jurnalistik luar biasa yang mereka lakukan dalam situasi yang sangat sulit. Terciptanya laporan tersebut luar biasa mengingat akses independen ke Gaza sangat terbatas. Para jurnalis membangun investigasi mereka berdasarkan kesaksian dan dokumentasi tenaga medis internasional yang pernah bekerja di rumah sakit dan klinik di Gaza.
Baca juga : “Sam Abu Haikal, Bayi 7 Bulan Gugur Ditembak Israel di Hebron — Anak Palestina ke-115 di 2026″
Effting dan Feenstra secara khusus memilih meneliti korban berusia di bawah 15 tahun. Tujuannya adalah karena status mereka sebagai anak-anak tidak dapat diperdebatkan. Dalam laporan itu mereka menulis bahwa pola luka berupa satu tembakan di kepala atau dada menjadi indikasi kuat bahwa korban kemungkinan Israel tembak secara sengaja.
Untuk menyusun laporan tersebut, De Volkskrant mewawancarai 17 dokter dan satu perawat dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Belanda. Seluruh narasumber pernah bertugas di enam rumah sakit dan empat klinik di Gaza sejak Oktober 2023. Banyak di antara mereka memiliki pengalaman menangani konflik di Sudan, Afghanistan, dan Ukraina.
Sebanyak 15 tenaga medis yang mereka wawancarai menyatakan telah merawat sedikitnya 114 anak berusia 15 tahun atau lebih muda. Dari ratusan anak tersebut, semuanya memiliki pola luka yang sama. Kasus-kasus tersebut tercatat antara akhir 2023 hingga pertengahan 2025 di sepuluh fasilitas kesehatan berbeda.
Salah satu dokter yang mereka wawancarai adalah ahli bedah trauma asal Amerika Serikat, Feroze Sidhwa. Ia menceritakan pengalamannya saat bertugas di Rumah Sakit Eropa di Gaza pada Maret 2024. Dalam waktu 48 jam pertama, ia menangani empat anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun yang mengalami luka tembak serupa di kepala. Selama 13 hari berikutnya, ia menangani sembilan anak lainnya dengan pola luka yang sama.
Para dokter yang mereka wawancarai menilai cedera tersebut sangat kecil kemungkinannya terjadi secara tidak sengaja. Sementara itu, pakar forensik yang De Volkskrant mintai pendapat menyebut pola luka yang seragam mengindikasikan adanya tembakan terarah. Hal tersebut kemungkinan berasal dari penembak jitu atau sistem persenjataan lainnya.
Penghargaan ini menyoroti pentingnya investigasi independen dalam mendokumentasikan dampak perang terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, di tengah keterbatasan akses jurnalis internasional ke Gaza.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)