Direktur eksekutif kelompok veteran Israel Breaking the Silence, Nadav Weiman, melontarkan pernyataan tajam terhadap operasional militer Israel di Gaza. Ia menyatakan bahwa tentara Israel membunuh lebih dulu lalu mencari alasan untuk membenarkan serangan di Gaza. Dalam wawancara dengan France 24, Weiman mengatakan militer Israel berupaya membangun hubungan antara korban serangan dan Hamas atau Jihad Islam Palestina setelah serangan terjadi
Menurut Weiman, aparat intelijen militer secara aktif mengumpulkan nama-nama korban tewas untuk mereka cocokkan dan kaitkan dengan kelompok Hamas atau Jihad Islam Palestina. Upaya pencarian alasan ini sering kali berlandaskan pada keterikatan longgar, seperti memiliki kerabat yang terafiliasi dengan kelompok tertentu atau pernah tercatat menerima gaji dari faksi terkait.
Weiman mengungkapkan bahwa pola manipulatif semacam ini terlihat nyata dalam berbagai insiden penyerangan mematikan. Insiden tersebut termasuk serangan terhadap Rumah Sakit Nasser pada Agustus 2025. Serangan tersebut membunuh sedikitnya 20 warga Palestina, termasuk pasien, tenaga kesehatan, petugas pertahanan sipil, dan jurnalis.
Baca juga: Israel Persenjatai Milisi Gaza, Picu Sebabkan Gelombang Kekerasan Baru
Weiman juga menyinggung pembunuhan 15 petugas medis dan pertahanan sipil di Rafah pada Maret 2025. Menurutnya, para korban kemudian dapat dicatat sebagai “teroris” setelah pasukan Israel menembaknya. Lembaga Breaking the Silence, katanya, menerima kesaksian tentara yang menguatkan praktik tersebut selama agresi di Gaza. Salah seorang perwira operasi disebut mengaku harus mencatat semua warga Palestina yang Israel tembak sebagai teroris, tanpa membedakan warga sipil.
Selain membongkar mekanisme pelabelan korban, Weiman juga melayangkan kritik keras terhadap efektivitas investigasi internal militer Israel. Menurutnya, mekanisme penyelidikan yang ada selama ini cenderung tidak adil karena hanya menyasar prajurit atau perwira berpangkat rendah. Sementara itu, para petinggi militer yang merumuskan aturan keterlibatan (rules of engagement) dan mengeluarkan perintah operasional justru lolos dari pertanggungjawaban.
Pernyataan ini mencuat di tengah krisis kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Gaza, total warga Palestina yang terbunuh sejak mulainya agresi militer pada Oktober 2023 kini telah melampaui 73.000 jiwa. Di samping itu, lebih dari 174.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan tanpa henti.
Sumber: MEMO








