Gelombang kekerasan dan teror terhadap tempat ibadah di wilayah Tepi Barat yang diduduki kembali mencuat. Ini terjadi setelah sekelompok pemukim Israel melancarkan upaya pembakaran di Desa Bazariya, barat laut Nablus, pada Selasa dini hari. Berdasarkan laporan dari kantor berita resmi Palestina, Wafa, para pelaku berusaha menerobos masuk ke dalam kompleks Masjid Nuruddin Zanki. Namun, saat itu mereka gagal membuka pintu utama bangunan suci tersebut. Para pemukim lalu nekat membakar sebuah ruangan yang terletak di dekat masjid serta menyemprotkan berbagai slogan bernada rasis di dinding sekitar lokasi kejadian.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menegaskan bahwa tindakan vandalisme dan pembakaran ini Israel rancang secara sengaja untuk memprovokasi umat Islam. Kementerian mendesak komunitas serta organisasi internasional agar segera turun tangan memberikan perlindungan nyata bagi seluruh tempat ibadah di Palestina.
Serangan terbaru ini terjadi di tengah lonjakan eskalasi kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang kian mengkhawatirkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa sepanjang bulan Agustus lalu, tingkat kekerasan oleh para pemukim telah mencapai rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga awal Agustus 2026, data PBB menunjukkan adanya lebih dari 1.430 insiden serangan pemukim yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa maupun kerusakan parah pada properti warga di berbagai penjuru Tepi Barat.
Insiden di Bazariya ini menambah panjang daftar target rumah ibadah yang pemukim ekstremis serang. Pada Juni, PBB juga mendokumentasikan kasus pembakaran serupa terhadap sebuah masjid di wilayah Ramallah. Pembakaran tersebut bersamaan dengan aksi perusakan bangunan dan pencoretan grafiti kebencian. Bagi masyarakat Palestina, masjid bukan sekadar tempat pelaksanaan ibadah ritual. Masjid merupakan pusat kehidupan sosial sekaligus pilar utama dalam mempertahankan identitas komunitas di tengah tekanan pendudukan yang kian menghimpit.
Sumber: MEMO








