Aktivitas sederhana yang dulunya menjadi sumber kebahagiaan kini berubah menjadi sumber ketakutan bagi anak-anak di Jalur Gaza. Hal ini terjadi menyusul ancaman yang dikeluarkan oleh Menteri Perang Israel, Israel Katz, pada 23 Agustus 2026, yang memerintahkan militer untuk menindak tegas segala bentuk benda terbang yang diluncurkan dari Gaza, termasuk layang-layang, balon, atau drone.
Perintah tersebut muncul setelah empat layang-layang dari Gaza terbawa angin hingga mencapai wilayah Nahal Oz. Kendati militer Israel sebelumnya menyatakan tidak menemukan adanya benda mencurigakan pada layang-layang tersebut, instruksi terlanjur mereka keluarkan dan menciptakan teror psikologis bagi warga sipil, khususnya anak-anak.
Baca juga: Kisah Anak-Anak Penyintas Gaza yang Memikul Beban Orang Dewasa
Sejumlah anak bahkan menyobek layang-layang mereka sendiri karena khawatir menjadi sasaran serangan. Padahal bagi anak-anak Gaza, layang-layang jauh melampaui fungsi mainan biasa; benda tersebut merupakan simbol kebebasan dan kegembiraan di tengah ruang hidup yang kian menyempit. Pada 2011, anak-anak Gaza bahkan mencetak rekor dunia dengan menerbangkan layang-layang secara bersamaan.
UNRWA mencatat sekitar 658.000 anak di Gaza telah melewati tiga tahun ajaran tanpa pendidikan tatap muka formal. Hampir 90 persen penduduk Gaza juga telah mengalami pengungsian selama perang.
Oleh karena itu, hilangnya layang-layang menunjukkan semakin sempitnya ruang bagi anak-anak untuk bermain. Bahkan, aktivitas sederhana seperti menerbangkan layang-layang kini mereka kaitkan dengan ancaman keselamatan.
Sumber: TRT World








