Aktivis HAM Palestina menyebut Israel telah membunuh 244 anak Palestina di Tepi Barat sejak Oktober 2023. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar terhadap keselamatan anak-anak Palestina di wilayah pendudukan.
Aktivis HAM Palestina, Ayed Abu Qtaish, menilai tidak adanya akuntabilitas terhadap pelaku kejahatan sama dengan memberi “lampu hijau” bagian Israel untuk terus melakukan pelanggaran. Karena itu, kekerasan terhadap anak-anak Palestina terus meningkat setiap tahun.
Menurut data yang disampaikan Abu Qtaish, pasukan Israel membunuh 81 anak Palestina pada akhir 2023. Sementara itu, sepanjang 2024, sebanyak 93 anak Palestina kembali terbunuh. Hingga Mei 2026, korban anak Palestina mencapai 70 jiwa.
Baca juga : “UNICEF: Anak Palestina Hadapi Teror Pemukim”
Dana Anak-Anak PBB, UNICEF, juga menyatakan bahwa anak-anak Palestina membayar harga yang sangat mahal akibat operasi militer dan serangan pemukim Israel. Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan rata-rata satu anak Palestina terbunuh setiap pekan sejak Januari 2025.
Selain penembakan, tentara Israel juga terbukti menghalangi ambulans ataupun keluarga korban untuk memberikan pertolongan pertama. Aktivis HAM menilai bahwa tindakan tersebut menunjukkan tujuan utama penembakan adalah pembunuhan.
Di sisi lain, anak-anak Palestina juga menghadapi ancaman saat pergi ke sekolah. Banyak sekolah menjadi sasaran serangan tentara dan pemukim Israel. Bahkan, penutupan jalan sering menghalangi siswa mencapai sekolah mereka.
Abu Qtaish menegaskan Israel jarang membuka penyelidikan serius terhadap kasus pembunuhan anak Palestina. Menurutnya, hampir tidak ada tentara Israel yang dihukum atas tindakan tersebut.
Banyak anak Palestina mengalami penahanan administratif tanpa dakwaan. Mereka juga menghadapi penyiksaan dan perlakuan buruk selama proses penahanan oleh otoritas Israel.
Sumber: Palinfo








