Misi penjaga perdamaian UNIFIL menyatakan bahwa tiga personel Indonesia terbunuh akibat tembakan tank Israel, berdasarkan hasil investigasi terbaru di Lebanon selatan.
UNIFIL mengungkapkan bahwa analisis lokasi dampak dan serpihan proyektil menunjukkan penggunaan peluru kaliber 120 mm yang ditembakkan dari tank Merkava. Proyektil tersebut dilaporkan ditembakkan dari arah timur menuju wilayah Taybeh.
Misi tersebut menegaskan bahwa pihaknya telah membagikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada militer Israel pada 6 dan 22 Maret, sebagai langkah pencegahan untuk melindungi personel di lapangan.
Dalam insiden terpisah, UNIFIL juga melaporkan bahwa PO seorang penjaga perdamaian sempat ditahan oleh militer Israel setelah konvoi logistik dicegat. Personel tersebut kemudian dibebaskan kurang dari satu jam setelah intervensi komando PBB.
UNIFIL mengecam penahanan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Mereka menegaskan bahwa tindakan menghalangi operasi penjaga perdamaian melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang menjamin kebebasan bergerak pasukan PBB di Lebanon selatan.
Sebelumnya, seorang penjaga perdamaian terbunuh pada 29 Maret setelah posisi PBB di dekat Adshit al-Qusayr terkena serangan. Insiden tersebut awalnya tidak diketahui sumbernya hingga investigasi dilakukan.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya eskalasi militer di Lebanon, yang memperbesar risiko bagi pasukan penjaga perdamaian internasional. UNIFIL menegaskan pentingnya perlindungan terhadap personel PBB serta kepatuhan terhadap hukum internasional dalam setiap operasi militer di wilayah konflik.
Sumber: MEMO








