• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

(Are) All Eyes on Rafah (?)

by Adara Relief International
Juni 7, 2024
in Artikel, Sorotan
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
Update Hari ke-241: Lebih dari 1 Juta Orang Meninggalkan Rafah ketika Israel Menyerang
159
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pada akhir Mei, Israel melakukan serangan secara masif ke Rafah, kota yang dijamin keselamatannya oleh Israel dan menjadi benteng terakhir bagi lebih dari satu juta pengungsi internal di Gaza. “All Eyes on Rafah” kemudian menjadi sebuah seruan dan gerakan agar masyarakat dan pemimpin dunia mengalihkan perhatiannya ke Rafah. “All Eyes on Rafah” ingin menegaskan kepada Israel, bahwa mata-mata dunia tengah melirik kepadanya; menyaksikan setiap detik kekejamannya. Berharap bahwa perhatian ini akan membuat Israel menghentikan segala bentuk perilaku kejinya.

Namun, hingga detik ini, tak ada tanda-tanda Israel akan mengurangi intensitasnya. Bahkan saat Biden (pada akhirnya) menawarkan opsi gencatan senjata, Netanyahu mengabaikan tawaran sekutu terdekatnya. Membuat kita menyadari akan satu hal, “Are All Eyes on Rafah?”

(Are) All Eyes on Rafah: Ketika Anak-anak Terus Menjadi Korban

“Aku telah mengangkat banyak orang yang syahid dan terluka, tetapi ketika aku melihat anak ini dengan tubuhnya yang tercabik dan terpisah-pisah, aku kehilangan seluruh kekuatanku. Aku merasa tidak mampu menggendongnya, aku sesak, lelah, dan hatiku sakit.

Saat aku menggendongnya, aku merasa seperti seluruh dunia hancur di tanganku.

Aku tidak mengerti bagaimana dunia sanggup untuk terus melihat anak-anak yang terpenggal ini.

Berapa lama kami akan menanggungnya? Aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak sanggup lagi menanggungnya.”

Ini adalah ungkapan seorang petugas medis yang tengah mencari para korban serangan Israel yang membabi buta ke Rafah beberapa saat lalu. Alih-alih menemukan korban selamat, ia justru mendapati anak-anak yang tidak saja dalam keadaan tidak bernyawa, tetapi juga jasadnya berserakan. Selama delapan bulan Gaza berada di bawah serangan Israel, yang semakin hari kejahatan perang yang dilakoninya semakin melewati batas.

Saat Israel memulai serangannya ke tenda-tenda pengungsian di Rafah pada 28 Mei 2024 malam, seorang laki-laki memegang jenazah seorang anak Gaza tanpa kepala. Ini bukanlah kali pertama atau kedua, sebab serangan Israel ke Gaza yang menyasar anak-anak Palestina merupakan serangan sistematis dan terstruktur. Tidak ada anak di Gaza yang wafat tanpa disengaja. Setiap serangan yang datang ke Gaza adalah serangan yang presisi.

(Serangan Israel ke tenda pengungsian di Rafah. Sumber: TRT)

IDF, melalui lamannya di X, mengatakan bahwa serangan malam itu merupakan serangan yang presisi untuk menargetkan kantong Hamas. Sementara itu, Netanyahu kemudian dengan mudahnya merevisi pernyataan militer Israel dengan mengatakan bahwa itu adalah ‘kesalahan yang tragis’. Kesalahan yang mengakibatkan 45 orang terbunuh, termasuk 23 anak-anak dan perempuan sementara 249 orang lainnya terluka.

Tentunya tidak ada yang percaya dengan kelakar Israel ini. Tanpa melihat bahwa Israel memiliki sejumlah alat canggih dan kecakapan intelijen, secara kasat mata saja akan dengan mudah membedakan tenda pengungsian dengan bangunan yang diklaim sebagai markas pejuang Palestina.

(Are) All Eyes on Rafah: Kelaparan untuk Membunuh Anak-anak Gaza

Tidak hanya dengan menggunakan senjata, anak-anak Palestina di Rafah ataupun di wilayah Gaza lainnya juga dibunuh dengan menggunakan senjata pemusnah massal bernama “kelaparan.”

Ini adalah ironi yang mengenaskan karena terjadi berulang kali di wilayah yang menjadi pintu gerbang utama masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza dan dijamin ‘keamanannya’.

Lebih dari dua bulan, penjajah Israel juga melarang masuknya kebutuhan dasar makanan ke wilayah utara termasuk sayuran, telur, buah-buahan, tepung, daging, garam dan gula. Bahkan sejak awal Mei, ketika Israel menguasai perbatasan Rafah, bantuan kemanusiaan yang masuk semakin dibatasi bahkan ditutup. Menurut WHO, anak-anak kelaparan, sementara truk bantuan berbaris di luar Rafah. Penduduk Palestina terpaksa mengonsumsi makanan hewan, rumput, hingga air limbah.

Bayi bernama Fayez Abu Atataya pada 30 Mei lalu mengembuskan napas untuk terakhir kalinya di RS Syuhada Al-Aqsa di wilayah Deir al-Balah, Gaza tengah, akibat kelaparan dan malnutrisi. Pada hari berikutnya, seorang anak bernama Abdul Rahman Al-Surhi juga harus meninggal karena alasan yang sama. Jika kondisi ini dibiarkan lebih lama, maka akan ada ratusan hingga ribuan anak akan mengalami hal serupa. Berdasarkan laporan dari OCHA, sejak Januari lebih dari 93.000 anak-anak di Palestina mengalami malnutrisi. Sementara itu 7.280 anak berada dalam kategori malnutrisi akut, termasuk 1.676 anak dengan indikasi malnutrisi akut parah. Nyawa mereka benar-benar berpacu dengan waktu, semakin lama Israel dibiarkan menyerang Gaza dan menahan bantuan kemanusiaan, maka harapan hidup anak-anak tersebut semakin menipis.

wafat akibat kelaparan dan malmutrisi. Sumber: Eye on Palestine)

1 of 2
- +

1. Ini adalah foto dari Fayez Abu Atataya

2. Ini adalah foto dari Abdurrahman Al-Surhi

(Are) All Eyes on Rafah: Anak-anak Gaza yang Dimatikan karena Tak dapat Berobat

Penutupan perbatasan memiliki implikasi yang tak kalah serius terhadap penduduk Gaza, terlebih anak-anak, yaitu terabaikannya pengobatan untuk mereka. Siraj Yassin (10 tahun), adalah satu dari banyaknya anak-anak Gaza yang menderita leukimia dan harus menjalani kemoterapi di luar Gaza, namun ia tak dapat berobat akibat ditutupnya Rafah.

Foto Siraj Yassin (10 tahun) bersama sang ibu, ia menderita kanker ganas namun tidak dapat berobat karena penutupan perbatasan. Sumber: Reuters

Sudah dua pekan ia tidak dapat berjalan akibat mengganasnya kanker yang dialaminya. Kesehatannya juga turun secara drastis. Tapi tak ada yang bisa diperbuat oleh para dokter di Gaza. Kasus Siraj adalah satu dari ratusan anak-anak Gaza yang menderita penyakit ganas seperti kanker, meningitis, ataupun penyakit parah lainnya yang memerlukan pengobatan di luar negeri. Menurut data WHO, terdapat 11.000 pasien, termasuk anak-anak, yang memerlukan evakuasi medis segera dari Jalur Gaza.

Why Should All Eyes Remain on Rafah, Gaza, Khan Younis, Deir Balah, and Palestine

Teriakan-teriakan dan perkemahan-perkemahan yang digelar para mahasiswa di negara-negara barat dan negara lainnya tampaknya tidak mampu membuat Israel menghentikan agresinya ke Gaza. Pun dengan protes-protes di jalanan-jalanan, gedung-gedung pemerintahan, dan di berbagai sudut-sudut kota-kota di seluruh dunia. Tak ada yang berubah dengan serangan Israel, malah intensitasnya semakin bertambah. Tak ada yang berubah dari sikap pemimpin dunia, selain mereka hanya menambah ‘anjuran-anjuran’ untuk melakukan gencatan senjata, yang karena terlalu normatif, tak digubris Israel.

Apa yang terjadi pada hari-hari ini dan yang lalu di Gaza menunjukkan kepada kita, bahwa ternyata seluruh mata dunia belum melihat ke Rafah. Kekejaman Israel masih dirasakan rakyat Palestina hingga kini. Penangkapan-penangkapan terhadap aktivis dan mahasiswa yang berdemonstrasi masih terjadi. Blacklist masih diberikan kepada mereka yang bersuara, terlebih di negara-negara barat. Ini jelas mengindikasikan bahwa mata para pemimpin dunia, terlebih sekutunya belum tertuju kepada Rafah ataupun Palestina.

Foto-foto perkemahan dan protes yang dilakukan oleh para mahasiswa Columbia. Sumber: Mondoweiss

1 of 3
- +

1.

2.

3.

Sebab jika benar seluruh mata dunia tertuju kepada Rafah, maka dapat dipastikan Israel akan dikucilkan dari dunia. Tidak akan ada event dunia yang dapat dimasuki Israel maupun warga negaranya. Tidak akan ada lagi kedutaan-kedutaan Israel di berbagai belahan dunia, karena pengucilan untuk Israel dimulai dari pemutusan hubungan diplomatik. Demikian pula dengan pesawat, kapal dagang, dan truk-truk komoditas, seharusnya tak ada lagi melintas, masuk ataupun keluar dari “negara” tersebut, karena sesungguhnya konsekuensi All Eyes on Rafah adalah juga pemutusan hubungan ekonomi.

Semua mata belum tertuju pada Rafah, karena masih kita temukan bom-bom rudal berasal dari Amerika, Jerman atau negara sekutu Israel lainnya, termasuk dengan tentara-tentaranya. Demikian pula masih kita dapati penuh sesaknya outlet McD, KFC, Pizza Hut, Starbuck ataupun berbagai brand penyokong genosida Israel ke Gaza di berbagai kota-kota dunia.

Namun biar demikian, All Eyes Should Remain on Rafah, Gaza, Khan Younis, Deir Balah, and Palestine. Biarkan saja para pemimpin dunia itu abai. Biarkan saja masyarakat-masyarakat yang masih asik dengan makanan minuman penyokong genosida. Biar saja mereka abai. Asalkan tidak demikian dengan kita.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Kita harus pastikan, bahwa kita berada pada sisi yang benar dalam sejarah hari ini. Kita berada pada sisi hati nurani dan kemanusiaan. Biarkan mereka abai. Namun pastikan kita tidak pernah lelah untuk selalu bersuara dan mendukung Palestina. Sebab sebelum Palestina merdeka, All Eyes (should) on Rafah, Gaza, Khan Younis, Deir Balah and definitely: Palestine.

Fitriyah Nur Fadilah, S.Sos., M.I.P.

Penulis merupakan Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana dan master jurusan Ilmu Politik, FISIP UI.

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Update Hari ke-245: Rumah Sakit Nyaris Tidak Mampu Menangani Korban Tewas dan Luka

Next Post

Berita Gambar Mei 2024 “All Eyes on Rafah”

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
19

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
15
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
19
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
24
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
ddce7205fb4ebd1ec4e680c4e1c27d84.png

Berita Gambar Mei 2024 “All Eyes on Rafah”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630