• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Selasa, Januari 20, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home A

Nakba Hari Ini: Pengusiran yang Tidak Kunjung Berhenti

by Adara Relief International
Mei 13, 2023
in A, Artikel
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
Nakba Hari Ini: Pengusiran yang Tidak Kunjung Berhenti
104
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Nakba yang memiliki arti ‘bencana’ atau ‘malapetaka’, merupakan sebutan untuk tragedi pengusiran besar-besaran yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina. Nakba terjadi sehari setelah Zionis mendeklarasikan berdirinya ‘negara’ Israel di atas tanah Palestina pada 14 Mei 1948. Pada hari itu, ‘deklarasi kemerdekaan’ yang dikumandangkan oleh Zionis seakan menjadi terompet perang bagi penduduk Palestina. Meskipun Nakba secara resmi ditandai pada 15 Mei 1948, tetapi sesungguhnya Nakba merupakan agenda panjang yang terjadi jauh sebelum itu dan masih terus berlangsung. Agenda tersebut dicetuskan oleh Napoleon Bonaparte yang kemudian dijalankan oleh Inggris melalu berbagai propaganda dan perundingan yang seolah melegalkan berdirinya Israel di negara Palestina
(Baca juga: ini).[1]

Kolonialisme Inggris di Palestina digantikan oleh Israel yang ribuan kali lebih kejam, merampas tanah Palestina dari pemilik aslinya. Pada hari itu, Inggris melunasi ‘janji’ yang mereka ucapkan kepada Zionis di dalam Deklarasi Balfour tahun 1917, yaitu untuk membentuk ‘rumah nasional bagi bangsa Yahudi di atas tanah Palestina’.

Tepat sehari setelah ‘negara’ Israel didirikan, pada 15 Mei 1948 Zionis langsung melakukan pengusiran besar-besaran terhadap penduduk Palestina dari tanah mereka sendiri. Sekitar 418 kota dan desa dihancurkan, 15.000 jiwa dibunuh, dan 800.000 penduduk diusir dari tempat tinggal mereka dan tidak pernah diizinkan untuk kembali[2]. Hingga hari ini, keturunan penduduk yang menjadi korban Nakba masih menjadi pengungsi yang menetap di kamp pengungsian yang terdapat di Gaza, Tepi Barat, dan negara-negara di sekitarnya. Sejak saat itu, peristiwa Nakba selalu diingat pada 15 Mei setiap tahunnya, sebagai momentum untuk menegaskan bahwa perjuangan untuk kembali harus terus dilanjutkan.

Tujuh puluh empat tahun telah berlalu sejak peristiwa Nakba. Akan tetapi, sejatinya Nakba tidak selesai pada 1948, melainkan terus berlangsung hingga detik ini. Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pembersihan etnis yang berkelanjutan dan tidak akan berhenti kecuali ‘dibersihkan’ hingga ke akarnya. Namun, yang lebih memprihatinkan, Nakba seolah-olah ‘diterima’ oleh dunia internasional ketika Majelis Umum PBB memberikan kursi dan mengakui berdirinya ‘negara’ Zionis Israel. Pengakuan tersebut kemudian diikuti oleh sejumlah negara lainnya seperti Uni Soviet, Amerika Serikat, dan diikuti oleh banyak negara lainnya. Bahkan negara-negara Arab yang dulunya berperang untuk membebaskan Palestina, kini semakin banyak yang mengakui Israel sebagai ‘negara’ dengan melakukan normalisasi hubungan, dan sekurang-kurangnya melakukan kerjasama dengan Israel di atas penderitaan rakyat Palestina.

Penduduk Palestina memperingati 74 tahun Nakba di sebuah pantai di kota Gaza
(Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Pada tahun ini, peringatan Nakba yang jatuh hanya beberapa pekan setelah Hari Raya Idulfitri membangkitkan kenangan penduduk Palestina yang sempat merasakan indahnya Ramadan sebelum terjadi Nakba. “Tidak ada yang lebih indah dari hari tua dan Ramadan pada masa lalu,” demikian Um Ahmed Aqel memulai ceritanya. Usianya 23 tahun dan ia baru memiliki bayi ketika terjadi Nakba, tetapi ia kehilangan bayinya ketika mengungsi dari Sarafand ke Gaza. Kini, pada usianya yang telah menginjak 97 tahun, ia masih menyimpan baik memori-memori Ramadan sebelum terjadinya Nakba.

“Sebelum dan selama Ramadan, kebahagiaan memenuhi hati, seolah-olah kita sedang menunggu orang tersayang yang telah lama pergi. Ramadan bagi kami adalah bulan kebaikan dan berkah.” Aqel tersenyum sambil mengingat bahwa setiap Ramadan, orang yang berkecukupan akan membayar zakat pada hari-hari pertama Ramadan dengan tujuan agar penduduk miskin dapat segera membeli kebutuhan mereka. Aqel juga menceritakan kesibukan kaum perempuan yang biasa berkumpul untuk menyediakan makanan dan saling bertukar makanan yang mereka punya. Kemudian pada sore hari, masjid akan diramaikan oleh penduduk, terutama anak-anak, yang menantikan waktu untuk berbuka puasa bersama.

Ali Al-Aseel, yang kini usianya 87 tahun, juga memaparkan kisahnya mengenai Ramadan sebelum Nakba. Usianya baru 13 tahun ketika itu, tetapi dia masih mengingat dengan baik masa kecilnya yang dihabiskan di Kota Yaffa. “Selama Ramadan, kota dihiasi lampu-lampu dan toko-toko manisan tumbuh subur, bulan ini adalah salah satu bulan terindah dalam setahun, karena suasana dan tradisinya yang indah, terutama pada malam hari,” katanya sambil mengingat suasana pantai yang akan dipadati penduduk, terutama remaja dan anak-anak, yang menantikan meriam buka puasa berbunyi[3]. Setelah itu, mereka akan makan bersama dari satu tabliah (meja kayu kecil) dan melaksanakan salat Tarawih berjamaah.

Kisah-kisah tersebut layaknya dongeng ketika disandingkan dengan Palestina hari ini, yang penduduknya terus dibayangi ketakutan akan datangnya ‘Nakba’ selanjutnya. Seakan ingin mengulang kembali Nakba 1948, Mahkamah Agung Israel telah memberikan ‘restu’ bagi pasukan pendudukan untuk mengusir lebih dari 1000 keluarga Palestina dari delapan desa di Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron, dengan dalih wilayah tersebut merupakan ‘zona latihan militer’[4].

Masafer Yatta merupakan daerah pedesaan yang memiliki luas 3000 hektar yang terletak di perbukitan Hebron selatan. Daerah tersebut merupakan wilayah yang terdiri atas beberapa desa kecil Palestina yang penduduknya ‘tidak diakui’ oleh Israel sebagai penduduk tetap, terutama semenjak ditetapkannya wilayah tersebut sebagai ‘zona tembak’ pada tahun ‘80an.

Dengan dikeluarkannya keputusan tersebut, juru bicara resmi kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, memperingatkan bahaya keputusan tersebut sebab turut memberikan lampu hijau bagi Israel untuk menghancurkan lebih dari 12 desa Palestina di Masafer Yatta, mengusir lebih dari 4.000 warga Palestina, dan menyita 22.000 dunum tanah. Pengusiran ini, seperti peristiwa Nakba, merupakan pembersihan etnis yang bertentangan dengan hukum internasional, tetapi dunia internasional seakan berteriak dalam bungkam, hingga akhirnya suara-suara penentangan terlupakan dengan sendirinya.


Anak-anak di Masafer Yatta yang dipaksa untuk mengungsi ke gua karena diusir dari tempat tinggalnya (Shatha Hammad/MEE)

Hari ini, penduduk Palestina di Tepi Barat terancam terusir dari tempat tinggalnya karena Israel telah menyetujui pembangunan 4000 unit rumah untuk permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat yang diduduki. Kementerian pertahanan Israel mengatakan bahwa 1.452 unit rumah akan segera dibangun, sementara 2.536 lainnya diharapkan akan segera disetujui oleh Menteri Pertahanan Benny Gantz[5]. Sekali keputusan tersebut disetujui, ribuan penduduk Palestina kembali akan kehilangan tempat tinggalnya, mengulang kembali Nakba puluhan tahun silam.

Hari ini, lebih dari 40 warga Palestina di Silwan, Al-Quds Timur, telah kehilangan tempat tinggalnya karena buldoser Israel menghancurkan bangunan tiga lantai milik sebuah keluarga. Sedikitnya lima orang dilaporkan terluka karena pengusiran tersebut, yang dilakukan dengan dalih bangunan tersebut tidak memiliki izin, sebuah alasan klasik yang selalu dijadikan ‘tameng’ oleh Israel untuk membenarkan pembersihan etnis yang mereka lakukan.

Silwan, wilayah yang terletak di selatan Masjid al-Aqsa di Kota Tua Al-Quds, memiliki luas 6.540 dunum dan merupakan rumah bagi lebih dari 60.000 warga Palestina. Lebih dari 100 bangunan di wilayah ini terancam akan dihancurkan karena dibangun secara ‘ilegal’ dan sudah ada lebih dari 7.820 perintah pembongkaran yang membuat ribuan penduduk berisiko terusir dari wilayah tersebut[6]. Israel melakukan banyak pembongkaran karena memiliki rencana untuk membangun serangkaian taman wisata yang bertema sekitar cerita dan tokoh alkitabiah di lingkungan al-Bustan, Wadi al-Rababa, Batn al-Hawa dan Wadi Hilweh, tanpa memedulikan ribuan penduduk yang sudah lama mendiami wilayah tersebut.

Hingga hari ini, Nakba masih terus berlangsung. Sebanyak 8.390 bangunan telah dihancurkan dan 12.421 penduduk dari seluruh wilayah Palestina terusir dari tempat tinggalnya[7]. Jumlah ini, apabila terus dibiarkan tanpa tindakan dari dunia internasional, akan terus bertambah beriringan dengan lahirnya puluhan Nakba pada tahun-tahun yang akan datang. Akan ada semakin banyak korban berjatuhan, perempuan yang mengalami trauma tak berkesudahan, serta anak-anak yang lahir tanpa merasakan pelukan tanah airnya sendiri[8]. Jika kita tidak bertindak, bukan tidak mungkin tanah Palestina semakin lama akan semakin mengecil, digantikan oleh permukiman-permukiman ilegal Yahudi yang menggerogoti pohon-pohon zaitun di tanah suci, mencabut identitas orang-orang Palestina tanpa sadar diri.

Bagi para pengungsi dan semua orang Palestina di diaspora, tidak ada yang bisa menggantikan tanah air. Seorang manusia harus memiliki rumah, dan dengan demikian, tidak ada solusi untuk masalah Palestina tanpa menyelesaikan masalah pengungsi. Mengusir orang dari rumah mereka dan mencegah mereka untuk kembali adalah kejahatan perang.

Generasi Palestina yang ada pada saat ini, merupakan keturunan dari orang-orang Palestina yang terusir pada peristiwa Nakba 74 tahun yang lalu. Raga mereka belum pernah kembali ke rumah tempat kakek-nenek mereka berasal, tetapi jiwa Palestina tetap berakar di dalam hati mereka. Orang-orang Palestina, di mana pun mereka berada, adalah individu berjiwa kuat yang tidak tergoyahkan, berkebalikan dengan Israel yang selalu dibayangi rasa takut dan kecemasan[9]. Bagi orang-orang Palestina, generasi tua memang akan gugur, tapi mereka sesungguhnya telah menyerahkan ‘kunci’ kepada generasi muda untuk meneruskan perjuangan mereka hingga tujuan mereka tercapai: kembali pulang ke tanah air mereka, serta mengembalikan kehormatan tanah suci Palestina dan masjid suci Al-Aqsa dari cengkeraman penjajah.

Ilustrasi Nakba (Carlos Latuff/MEMO)

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Staf Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana  jurusan Sastra Arab, FIB UI.

 

Sumber:

https://www.#/20220509-the-palestinian-nakba-didnt-end-in-1948-it-is-ongoing/

https://www.#/20220421-time-to-confront-israels-aggression-with-palestinian-narratives-of-the-ongoing-nakba/

https://www.#/20220401-uns-israel-probe-urged-to-investigate-the-nakba-and-apartheid-practices/

https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-army-general-warns-nakba

https://www.middleeasteye.net/news/what-is-nakba-palestine-israel-conflict-explained-1948

https://www.arabnews.com/node/2056206/middle-east

http://english.news.cn/20220509/ff9ced54e68649e3a185411abec18be4/c.html

https://www.jpost.com/israel-news/article-703115

https://www.jpost.com/opinion/there-must-not-be-a-second-nakba-editorial-688750

Baca Juga

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-supreme-court-paves-way-eviction-masafer-yatta

https://www.middleeasteye.net/news/israel-west-bank-jewish-settlers-new-housing-units-approved

https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-jerusalem-silwan-raze-homes-destitute

 

[1] https://adararelief.com/nakba-malapetaka-yang-ditanggung-bangsa-palestina-bagian-i-1799-1936/

[2] https://www.middleeasteye.net/news/what-is-nakba-palestine-israel-conflict-explained-1948

[3] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/ramadan-di-palestina-dari-meriam-iftar-hingga-panekuk-mini/

[4] https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-supreme-court-paves-way-eviction-masafer-yatta

[5] https://www.middleeasteye.net/news/israel-west-bank-jewish-settlers-new-housing-units-approved

[6] https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-jerusalem-silwan-raze-homes-destitute

[7] https://www.ochaopt.org/data/demolition

[8] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/handala-dan-anak-anak-yang-merindukan-pelukan-tanah-air/

[9] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/ketahanan-penduduk-palestina-kokoh-bagai-karang-di-lautan/

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Tags: ArtikelPalestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Nakba: Malapetaka yang Ditanggung Bangsa Palestina (Bagian IV: Diaspora Palestina)

Next Post

Pemukim Israel Menculik Seorang Anak Palestina di Urif

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
25
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Israel Menyiksa Anak-Anak Palestina dalam Tahanan

Pemukim Israel Menculik Seorang Anak Palestina di Urif

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630