Sebanyak 9.350 warga Palestina masih mendekam di dalam penjara-penjara Israel hingga akhir September 2026. Laporan terbaru dari Asra Media Office mengungkap terjadinya eskalasi penangkapan, tindakan penyiksaan, pengabaian medis, serta pembatasan sistematis terhadap hak-hak dasar para tawanan Palestina.
Dari jumlah tersebut, sekitar 3.176 orang merupakan tawanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan atau proses pengadilan. Selain itu, terdapat sekitar 90 perempuan dan 350 anak-anak. Para tawanan juga mencakup 25 orang yang telah menjalani hukuman panjang, tujuh anggota parlemen Palestina, serta 15 tawanan dari Gaza yang menjalani hukuman seumur hidup.
Sejak Israel melancarkan agresi genosida di Gaza pada Oktober 2023, penangkapan di Tepi Barat yang diduduki telah melampaui 25.000 kasus. Laporan itu juga mencatat lima jurnalis yang meninggal di dalam penjara Israel, serta sekitar 38 jurnalis Palestina yang masih ditawan, termasuk sembilan orang dari Gaza.
Menurut laporan tersebut, 92 tawanan Palestina meninggal dalam tahanan Israel sejak 7 Oktober 2023. Enam di antaranya meninggal sejak awal 2026.Akibat rentetan kematian tersebut, total tawanan Palestina yang meninggal di dalam tahanan Israel sejak tahun 1967 kini telah mencapai sekitar 805 orang.
Baca juga: 7 Oktober Bukan Alasan Mengabaikan Hukum Internasional
Tawanan Palestina menghadapi pemukulan, kekerasan fisik, penggeledahan yang merendahkan martabat, serta pembatasan kebutuhan sehari-hari. Kondisi penjara yang buruk juga memicu penyebaran penyakit kulit, termasuk kudis.
Keterbatasan fasilitas kebersihan, buruknya ventilasi, minimnya pasokan pakaian, serta minimnya perlengkapan sanitasi semakin memperparah penderitaan para tawanan. Situasi ini semakin buruk akibat pengabaian medis serta penundaan pengobatan yang mengancam keselamatan jiwa, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit kronis atau menderita luka serius akibat penangkapan.
Laporan itu turut menyoroti kondisi perempuan Palestina yang berada di Penjara Damon dan tawanan dari Gaza di Penjara Ganot. Mereka menghadapi kekurangan makanan, pakaian, serta perlengkapan kebersihan. Di Penjara Ramla, penggerebekan dan kekerasan juga terus berulang.
Asra Media Office menyatakan bahwa otoritas penjara terus menerapkan isolasi, pemindahan berulang, pembatasan makanan, dan pencabutan hak dasar. Laporan tersebut memperingatkan bahwa anak-anak, perempuan, jurnalis, dan tokoh gerakan tawanan Palestina turut terdampak oleh memburuknya kondisi penahanan.
Sumber: Palinfo








