Lebih dari 86% lahan pertanian di Gaza rusak akibat perang terbaru, menurut laporan Palestinian Center for Policy Research. Laporan ini menegaskan bahwa respons darurat saja tidak lagi cukup, dan perlu pendekatan pembangunan berkelanjutan.
Dalam studi berjudul “Rehabilitation of Agricultural Land in Gaza”, peneliti Khaled Abu Amer menjelaskan bahwa kerusakan tidak hanya terjadi pada tanaman dan infrastruktur. Akan tetapi, kerusakan terjadi juga pada kualitas tanah, sumber air, dan ekosistem secara keseluruhan. Akibatnya, kondisi ini semakin mempersulit pemulihan.
Selain itu, sistem air dan produksi ternak hampir sepenuhnya runtuh, memperburuk krisis ketahanan pangan. Meski ada upaya rehabilitasi dari berbagai pihak, sebagian besar masih terbatas pada tahap awal, seperti persiapan lahan, tanpa mampu melanjutkan ke siklus produksi penuh akibat kekurangan input pertanian, energi, dan pendanaan.
Baca juga : “Kantor Media Gaza Catat 377 Pelanggaran Gencatan Senjata”
Laporan ini juga menyoroti pola lama “pemulihan parsial” yang terus berulang akibat blokade, keterbatasan dana, dan ketiadaan solusi lingkungan yang komprehensif.
Para peneliti memperingatkan kesenjangan pendanaan yang serius. Persediaan sumber daya hanya mencakup kurang dari 10% untuk kebutuhan mendesak. Sementara itu, total biaya rekonstruksi sektor pertanian kemungkinan melebihi $4,2 miliar.
Oleh karena itu, dibutuhkan strategi terpadu yang tidak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang bagi sistem pertanian dan masyarakat Gaza.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)