Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, mengungkapkan bahwa sekitar 8.000 jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang hancur di berbagai bagian wilayah tersebut. Hal ini terjadi meskipun tim Pertahanan Sipil Gaza telah melakukan upaya pencarian dan evakuasi.
Dalam pernyataan pers yang mereka rilis pada Kamis (12/02), Basal menjelaskan bahwa tim Pertahanan Sipil terus beroperasi dalam kondisi yang sangat sulit. Mereka bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas. Akibatnya, kondisi tersebut menghambat akses mereka ke banyak lokasi yang hancur. Ia menambahkan bahwa lebih dari 3.000 orang masih terdaftar sebagai korban yang hilang. Tidak ada yang memiliki informasi pasti tentang nasib mereka, apakah mereka masih hidup, telah meninggal, atau menjadi tawanan Israel.
Ia juga mencatat bahwa ratusan jenazah telah membusuk sehingga sulit mengenali mereka. Hal ini terjadi karena lamanya waktu yang dibutuhkan oleh tim Pertahanan Sipil untuk membersihkan puing-puing. Tim Pertahanan Sipil saat ini bekerja di tengah kekurangan alat berat dan peralatan teknis yang sangat mereka perlukan.
Jumlah korban terbunuh akibat genosida Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah melonjak menjadi 72.049 jiwa saat ini, menurut kementerian kesehatan pada Kamis pagi (12/02). Kementerian menambahkan bahwa jumlah total korban luka juga melonjak menjadi 171.691 orang.
Dalam laporan hariannya, kementerian kesehatan mengatakan bahwa rumah sakit telah menerima empat jenazah warga sipil, dan lima orang yang terluka selama 24 jam terakhir. Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, setidaknya 591 warga Palestina telah terbunuh, dan 1.583 lainnya terluka.
Sumber: Palinfo








