52 Tahun Peristiwa Pembakaran Mimbar Masjid Al-Aqsa

Hari ini, 52 tahun yang lalu, terjadi sebuah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan oleh penduduk Palestina dan umat muslim di seluruh dunia.[1] Pagi hari pada 21 Agustus 1969, para jamaah dan penjaga Masjid Al-Aqsa yang saat itu baru selesai salat subuh dikejutkan dengan alarm yang tiba-tiba berbunyi. Mereka kemudian mendapati kepulan asap dari bawah kubah perak Masjid Al-Aqsha, tepatnya di ruangan salat yang berada di sayap tenggara masjid.

Baca juga: Bagaimana Al Aqsa Terbakar

Umat Islam dibantu oleh umat Nasrani yang berada di sana, berusaha memadamkan api. Akan tetapi, tentara Zionis Israel menghalangi mereka sehingga terjadi bentrokan. Selain dihalangi oleh tentara Zionis, para penduduk yang berusaha memadamkan api juga kesulitan karena alat pemadam kebakaran tidak berfungsi, pompa air rusak, dan selang airnya terputus. Para penduduk kemudian menggunakan segala cara agar dapat memadamkan api. Mereka membentuk rantai manusia, lalu membawa air menggunakan ember atau wadah kecil lainnya ke bagian masjid yang terbakar.

Bantuan tiba beberapa saat kemudian. Mobil-mobil pemadam kebakaran berdatangan dari kota-kota sekitar Tepi Barat, seperti Nablus, Ramallah, Al-Bireh, Bethlehem, Hebron, Jenin, dan Tulkarem demi membantu memadamkan api di masjid suci tersebut. Namun, lagi-lagi usaha mereka dipersulit oleh tentara Zionis Israel. Tentara Zionis Israel tidak mengizinkan mobil-mobil pemadam kebakaran tersebut masuk dengan alasan masalah ini merupakan tanggung jawab kotamadya Al-Quds.

Sekitar tiga jam api berkobar dan membakar mimbar kayu hadiah dari Shalahuddin Al-Ayyubi, panel mosaik di dinding dan langit-langit, hingga mencapai jendela yang tepat berada di bawah kubah, sebelum akhirnya api berhasil dipadamkan. Meski demikian, padamnya api tidak memadamkan kemarahan penduduk Palestina. Demonstrasi pun terjadi untuk mengecam tindakan Zionis yang telah membakar masjid suci ketiga bagi umat muslim tersebut. Untuk mengatasinya, tentara Zionis Israel kemudian memblokir seluruh akses menuju Masjid Al-Aqsha. Akibatnya, keesokan harinya salat Jumat tidak dapat dilaksanakan di Masjid Al-Aqsha. Ini merupakan kejadian pertama sejak masjid suci ini didirikan.[2]

Mengenai peristiwa ini, Zionis Israel menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan “kecelakaan yang tidak disengaja”. Bahkan, mereka menuduh pihak Fatah yang menjadi dalang kebakaran tersebut dengan alasan agar Zionis Israel dapat disalahkan dan mendapat kecaman dari negara-negara Arab dan umat muslim di seluruh dunia. Akan tetapi, alasan Zionis Israel tidak diterima. Melalui siaran Radio Kairo, Mesir bahkan menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan “kejahatan yang direncanakan”.[3]

Penyelidikan pun dilakukan untuk mengidentifikasi pelaku pembakaran Masjid Al-Aqsa. Hasilnya, Michael Dennis William Rohan (28), turis asal Australia ditetapkan sebagai tersangka pelaku pembakaran. Rohan adalah seorang pekerja peternakan dari Australia yang telah berkeliling selama beberapa bulan di Israel. Ia ditangkap pada 23 Agustus 1969 lalu menyatakan bahwa tindakan yang ia lakukan bukanlah kejahatan karena ia mengaku sebagai “utusan Tuhan”. Rohan mengatakan bahwa tujuannya melakukan pembakaran karena ingin mempercepat kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, dan hal tersebut hanya bisa dicapai apabila Zionis Israel bisa membangun kuil di wilayah Masjid Al-Aqsa yang diklaim sebagai tempat awal berdirinya Kuil Solomon. Pernyataan yang disampaikannya membuat Rohan dianggap mengalami gangguan jiwa sehingga akhirnya dirawat di rumah sakit jiwa.[4]

Selain mengakibatkan hangusnya banyak bagian masjid, kebakaran ini juga menghabisi mimbar Nuruddin Zanky[5] yang merupakan hadiah dari Shalahuddin Al-Ayyubi. Mimbar ini dibuat atas prakarsa Nuruddin Zanky bin Imaduddin Zanky pada 564 H/1168 M yang bernazar akan meletakkan mimbar tersebut saat pembebasan Al-Aqsa dari pasukan Salib. Setelah 19 tahun berlalu sejak mimbar dibuat, Shalahuddin Al-Ayyubi, yang merupakan penerus perjuangan Nuruddin Zanky, berhasil membebaskan tanah Palestina dan mewujudkan nazar Nuruddin Zanky.

Baca juga: Mimbar Nuruddin Zanky (800 tahun)

Mimbar Nuruddin Zanky memiliki makna yang mendalam bagi umat Islam. Mimbar ini merupakan wujud keyakinan bahwa Al-Aqsa suatu saat akan kembali menjadi milik umat Islam dan menjadi lambang persatuan umat karena kemenangan tidak akan dapat dicapai secara individu melainkan merupakan buah perjuangan kolektif.

Pembakaran Masjid Al-Aqsa membuat mimbar Nuruddin Zanky hancur dan hanya menyisakan kepingan-kepingan kecil yang kini tersimpan di arsip Lembaga Wakaf Masjid Al-Aqsa. Pada 28 Agustus 1993, Raja Husein bin Thalal dari Yordania memerintahkan untuk membuat mimbar pengganti dengan bentuk dan cara pengerjaan yang sama persis seperti mimbar Nuruddin Zanky. Setelah Raja Husein bin Thalal wafat, proyek ini dilanjutkan oleh Raja Abdullah II bin Husein.

Fakultas Seni Tradisional Islam Universitas Balqa, Yordan, kemudian mengadakan lomba bagi seluruh ahli ukir dan seniman dari berbagai negara untuk membentuk tim pembuatan mimbar. Indonesia turut ikut serta dalam proyek ini atas prakarsa (Alm.) Mahmud Bukhori dan beberapa rekan alumni ITB dari Desenta dan Birano. Indonesia mengirimkan sampel ukiran tangan yang kemudian mengantarkan Indonesia menjadi pemenang dan mendapat kehormatan menjadi bagian dari tim pembuat mimbar bersama perwakilan dari negara-negara lainnya.

Pembakaran Masjid Al-Aqsa pada 1969 bukanlah tindakan terakhir yang dilakukan Zionis untuk mengusir umat Islam. Pada 12 Januari 2021, Zionis melakukan Yahudinisasi di kompleks Masjid Al-Aqsa. Zionis Israel berusaha mengklaim kawasan Al-Buraq dengan dalih mereka sedang melakukan renovasi dan penggalian. Al-Buraq adalah nama yang digunakan umat muslim untuk menyebut Tembok Barat yang merupakan tempat Nabi Muhammad SAW mengikat Buraq dalam perjalanannya ke Al Quds sebelum naik ke langit.[6]

Tindakan ini kemudian mendapat kecaman dari Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina dan meminta agar Dewan Keamanan PBB melaksanakan tanggung jawabnya untuk menghentikan penggalian yang dilakukan Zionis Israel di kawasan Al-Buraq. Komite Kepresidenan Tinggi Urusan Gereja di Palestina juga memperingatkan bahwa tindakan Yahudinisasi merupakan bahaya yang menargetkan identitas, sejarah, dan fitur Kota Tua Al Quds Timur. Selain itu, Kementerian Luar Negeri Yordania, melalui juru bicaranya, Daifallah Al-Fayez, juga menyerukan agar Zionis Israel segera menghentikan pekerjaan yang mereka lakukan di Tembok Al-Buraq.[7]

Pada 10 Mei 2021, Zionis Israel lagi-lagi melakukan penyerangan terhadap Masjid Al-Aqsa. Para tentara menembakkan bom yang mengakibatkan terbakarnya pohon-pohon di kompleks Masjid Al-Aqsa. Selain itu, kerumunan pemukim juga menyerang warga Palestina di Sheikh Jarrah. Sekitar 305 orang terluka akibat terkena tembakan peluru karet, gas air mata, dan granat kejut yang diarahkan pasukan Zionis kepada warga.[8]

Masih pada bulan yang sama, Zionis kembali melakukan penyerangan pada 21 Mei 2021. Ironisnya, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah kesepakatan gencatan senjata antara Zionis Israel dan Hamas yang ditengahi oleh Mesir, diberlakukan di Gaza. Suasana di kompleks Masjid Al-Aqsa menjadi kacau setelah salat Jumat karena polisi Zionis Israel melemparkan granat kejut ke arah warga Palestina. Tindakan ini kemudian dibalas oleh penduduk Palestina dengan melemparkan batu dan bom molotov. Penyerangan ini dilakukan ketika warga Palestina sedang bersukacita setelah mendengar kabar gencatan senjata. Mereka bersorak dan mengibarkan bendera Palestina menjelang waktu salat Jumat sebelum polisi Israel menyerang mereka.[9]

Selang dua hari kemudian, tepatnya pada 23 Mei 2021, Zionis Israel kembali menyerang jamaah Masjid Al-Aqsa yang saat itu sedang melaksanakan salat subuh. Mereka memukul jamaah untuk memberi jalan bagi para pemukim Yahudi agar dapat menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa. Pasukan Zionis menangkap enam orang, di antaranya seorang penjaga masjid yang bernama Fadi Alyan dan seorang karyawan Dewan Wakaf Islam yang ditunjuk Yordania yaitu Ali Wazouz. Selain itu, Zionis juga mengusir para pemuda dari kawasan Masjid Al-Aqsa dan membuat strategi larangan bagi jamaah yang usianya di bawah 45 tahun untuk memasuki area masjid.[10]

Sebulan setelahnya, kerusuhan kembali terjadi. Zionis menyerang warga Palestina setelah salat Jumat ketika mereka hendak melakukan demonstrasi menentang penghinaan dari Yahudi. Beberapa hari sebelumnya, dalam unjuk rasa pada Selasa, puluhan Yahudi meneriakkan “”Matilah orang Arab” dan “Semoga desa Anda terbakar”, serta menghina Nabi Muhammad SAW, dalam video yang tersebar secara online. Oleh karena itu, warga Palestina berkumpul di Masjid Al-Aqsa untuk melakukan demonstrasi. Akan tetapi, sebelum demonstrasi dimulai, mereka diserang dengan menggunakan peluru baja berlapis karet, gas air mata, dan granat kejut. Akibat serangan ini, Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan sembilan orang terluka, tiga dirawat di rumah sakit, dan 10 orang ditangkap.[11]

Belum genap sebulan setelah peristiwa itu, pada 18 Juli 2021 atau dua hari menjelang Hari Raya Idul Adha, Zionis Israel kembali menyerbu Masjid Al-Aqsa dengan menembakkan peluru baja berlapis karet dan gas air mata ke jamaah Masjid Al-Aqsa. Tindakan ini mereka lakukan dengan tujuan untuk membuka jalan ke Masjid Al-Aqsa bagi para pengunjung Yahudi. Mengenai kejadian ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania menyatakan, “Tindakan Israel terhadap masjid ini ditolak dan dikutuk, dan merupakan pelanggaran terhadap status quo sejarah dan hukum, hukum internasional, dan kewajiban Israel sebagai kekuatan pendudukan di Al-Quds Timur”.

Tidak hanya terhadap Masjid Al-Aqsa, beberapa hari lalu Zionis Israel juga melakukan Yahudinisasi terhadap masjid Ibrahimi yang terletak di kota Hebron. Mufti Al-Quds, Sheikh Mohammed Hussein mengatakan bahwa penjajah Israel berencana untuk membangun lorong, koridor, dan memasang lift untuk memfasilitasi akses pemukim ilegal ke masjid pada 11 Agustus 2021. Proyek ini merupakan pelanggaran besar terhadap properti Muslim, serta pelanggaran terhadap hukum internasional yang melindungi tempat-tempat suci dan kebebasan beragama. Perdana Menteri Palestina Muhammad Shtayyeh juga mengutuk tindakan tersebut dan meminta masyarakat internasional dan UNESCO untuk mengambil tindakan cepat dalam mengatasi masalah ini karena masjid tersebut berada dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Tindakan Zionis Israel yang berkali-kali menodai masjid di Palestina ini telah dikecam oleh umat muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada 12 Mei 2021, Anadolu News melaporkan bahwa Presiden Joko Widodo mengutuk kekerasan yang dilakukan oleh polisi Israel terhadap jamaah Masjid Al-Aqsa dan menegaskan bahwa pengusiran warga sipil Palestina dan kekerasan terhadap mereka di Masjid Al-Aqsa, tidak boleh diabaikan. “Indonesia mengutuk tindakan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan atas pelanggaran berulang yang dilakukan oleh Israel,” tulis Presiden Jokowi di akun Twitter resminya. Presiden Jokowi juga menambahkan bahwa Indonesia akan terus berdiri bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak mereka dan menentang tindakan Israel yang melanggar hukum internasional.[12]

 

Sumber : Link 1 / Link 2 / Link 3 / Link 4 / Link 5 / Link 6 / Link 7 / Link 8 / Link 9 / Link 10

Link 11 / Link 12 / Link 13 / Link 14 / Link 15 / Link 16 / Link 17 / Link 18 / Link 19 / Link 20

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

 

Leave a Reply