Pihak berwenang Israel terus menutup kompleks Masjid Al-Aqsa untuk hari keenam berturut-turut, dengan dalih keadaan darurat dan konflik regional yang sedang berlangsung. Sementara itu, warga Palestina di Al-Quds (Yerusalem) dan pengamat menggambarkan langkah itu sebagai bagian dari serangan yang lebih luas terhadap kesucian situs dan kebebasan beribadah.
Otoritas Israel telah melarang jemaah Muslim mengakses Masjid. Israel mencegah mereka melakukan salat malam dan Tarawih selama bulan suci Ramadan. Pada saat yang sama, para pejabat Israel telah mengklaim bahwa langkah-langkah itu bertujuan untuk “melindungi” situs tersebut. Pernyataan ini menurut para kritikus bertentangan dengan tindakan pembatasan jemaah yang berusaha beribadah di sana.
Baca juga : “Israel Menyerbu Masjid Al-Aqsa 24 Kali Sepanjang Februari“
Para pengamat mengatakan pihak berwenang Israel mungkin berusaha mengeksploitasi perkembangan regional. Ketegangan yang terkait dengan agresi Zionis-AS terhadap Iran digunakan sebagai dalih dalam memajukan rencana lama untuk membatasi kehadiran umat Islam di kompleks Al-Aqsa. Selain itu, Israel juga berniat memperluas permukiman dan yahudisadi di Al-Quds (Yerusalem).
Menanggapi penutupan Masjid Al-Aqsa, badan-badan keagamaan dan nasional Palestina di Al-Quds telah meminta warga Palestina untuk meningkatkan kehadiran mereka di Kota Al-Quds dan di Masjid Al-Aqsa.
Seruan itu menekankan perlunya memecah pengepungan Israel di situs suci tersebut. Mereka mendesak orang-orang untuk berdiri teguh di gerbangnya dan di jalan-jalan Kota Tua.
Badan tersebut mengimbau dunia Arab dan Muslim untuk mengambil tindakan segera. Mereka menuntut dunia untuk memikul tanggung jawab terhadap situs tersebut. Sebab, Al-Aqsa memiliki makna religius yang mendalam sebagai kiblat pertama umat Islam dan masjid tersuci ketiga.
Sumber: Palinfo








