Badan Pekerja dan Pemeliharaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menghadapi tekanan berlapis di tengah eskalasi kekerasan dan krisis finansial yang kian parah. Selain insiden penyerbuan fasilitas oleh militer Israel di Tepi Barat, UNRWA juga terpaksa memperpanjang kebijakan pembekuan konversi kontrak bagi para staf lokalnya.
Pada 25 Agustus, pasukan keamanan Israel, staf pemerintah kota, dan seorang pejabat terpilih memasuki Pusat Pelatihan Qalandiya. Direktur Urusan UNRWA di Tepi Barat, Roland Friedrich, menyebut tindakan tersebut ilegal dan dilakukan secara paksa.
Pasukan Israel kemudian meninggalkan fasilitas pada 28 Agustus. Menurut Friedrich, mereka merusak aset UNRWA serta terdapat tanda-tanda penjarahan. Pusat itu mencakup ruang pelatihan, kelas, asrama, serta berbagai peralatan keterampilan kerja, dengan total aset senilai lebih dari USD 5 juta.
Pusat Pelatihan Qalandiya juga merupakan fasilitas pelatihan teknis dan kejuruan tertua milik UNRWA di Tepi Barat. Setiap tahun, fasilitas tersebut menyediakan pelatihan gratis bagi 340 pengungsi muda Palestina.
Sementara itu, UNRWA juga memperpanjang pembekuan perubahan kontrak staf lokal hingga pemberitahuan lebih lanjut. Kebijakan tersebut berlaku bagi seluruh staf lokal di wilayah operasi dan kantor pusat.
Sebelumnya, UNRWA memberlakukan pembekuan selama satu tahun sejak Oktober 2025. Namun, lembaga tersebut kini belum menetapkan kapan konversi kontrak akan kembali berlangsung.
Selain itu, UNRWA membatasi kontrak awal staf lokal maksimal satu tahun. Perpanjangan kontrak juga hanya berlangsung maksimal satu tahun.
Kebijakan tersebut muncul di tengah ketidakpastian pendanaan dan menurunnya kontribusi donor. Kondisi ini menyulitkan UNRWA dalam merencanakan operasional jangka panjang. Tekanan tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan UNRWA menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, dan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina.
Sumber: Palinfo








