Seorang siswi Palestina berusia sembilan tahun, Ritaj Abdulrahman Rihan, dibunuh pasukan Israel saat mengikuti pelajaran matematika di Beit Lahia, Gaza utara, pada Kamis (10/4) . Insiden ini kembali menyoroti rapuhnya keamanan warga sipil, bahkan di ruang kelas yang seharusnya aman.
Saat kejadian, Ritaj tengah mengerjakan soal pengurangan angka empat digit di Sekolah Abu Ubaida bin al-Jarrah bersama sekitar 40 siswa lainnya. Ia sempat menuliskan soal di buku catatannya, namun belum sempat menyelesaikan jawabannya. Halaman kosong itu kemudian ternodai dengan darah setelah peluru mengenai kepalanya.
Ritaj dilarikan ke rumah sakit, tetapi tenaga kesehatan menyatakan ia meninggal sebelum keluarganya sempat berpamitan. Ayahnya, Abdulrahman Rihan, mengaku terpukul. “Saya mengantarnya ke sekolah agar bisa belajar seperti anak-anak lain. Saya tidak pernah membayangkan akan menerima kabar kematiannya dari tempat belajar,” ujarnya.
Keluarga Ritaj hidup dalam kondisi pengungsian setelah rumah mereka hancur akibat serangan sebelumnya. Meski demikian, mereka tetap mengupayakan pendidikan bagi anak-anaknya. Ritaj bahkan harus berjalan sekitar satu kilometer setiap hari untuk bersekolah. Ia adalah anak pertama dan terkenal karena cerdas serta gemar belajar.
Sekolah tempatnya belajar berada di area yang dianggap relatif aman, sekitar dua kilometer dari garis militer yang dikenal sebagai “Yellow Line”. Namun, laporan menunjukkan bahwa pasukan Israel kerap menembaki wilayah di sekitar garis tersebut, termasuk area yang sebelumnya termasuk dalam kategori aman.
Ibu Ritaj, Ola Rihan, menggambarkan duka yang mendalam saat menerima kembali buku catatan anaknya. “Ini bukan tinta, ini darah anak saya,” katanya, seraya menunjukkan halaman yang berlumuran darah.
Sejak berlakunya gencatan senjata pada Oktober 2025, penembakan di area sipil, termasuk di sekitar fasilitas pendidikan, masih terus terjadi. Kasus Ritaj menambah panjang daftar korban anak-anak di Gaza, sekaligus mempertegas risiko yang terus mengancam generasi muda di tengah agresi yang belum berakhir.
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)