Penahanan Jenazah Palestina: Ramai Tagar #ReturnOurChild di Media Sosial

Randa Wahbe, seorang akademisi dari Universitas Harvard yang fokus mengkaji tentang penahanan jenazah warga Palestina oleh Zionis Israel, menyerukan kampanye daring pada Senin lalu (30/08). Melalui akun twitter-nya, @randawahbe, ia mengajak sebanyak mungkin orang untuk mengecam Zionis dengan cara membagikan cuitan mengenai penahanan jenazah, dengan menyertai tagar #ReturnOurChildren (#KembalikanAnakKami). Kampanye ini diikuti juga oleh beberapa akademisi lainnya seperti Mohammed El Kurd, Noura Erakat, dan Yara Hawari.

Kampanye tersebut merupakan respon atas strategi Zionis Israel yang menahan tujuh jenazah warga Palestina pada Jumat lalu (27/08). Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan mengatakan bahwa tujuh jenazah tersebut merupakan tawanan Palestina yang tewas di penjara-penjara Zionis. Al-Mezan melaporkan bahwa para tawanan tersebut diperlakukan dengan tidak layak di dalam penjara. Penjara Zionis tidak menyediakan pelayanan medis yang baik, termasuk dalam pencegahan Covid-19 sehingga hidup para tawanan terancam di dalam penjara.

Photo by MEE/Shatha Hammad

Zionis Israel menolak untuk menyerahkan jenazah-jenazah tersebut kepada keluarganya agar dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar demi tujuan politik. Putusan Mahkamah Agung Zionis Israel pada 1967 menyatakan bahwa komandan militer memiliki wewenang untuk menahan jenazah warga Palestina dan menguburkannya sementara untuk digunakan sebagai alat negosiasi di masa depan.

Sudah hampir dua bulan keluarga Afana menahan rasa sakit. Khaled Yousef Afana (56) dan Khulood (47) kehilangan putri mereka, Mai (29), akibat ditembak oleh pasukan Zionis Israel pada 16 Juni yang lalu. Kehilangan dan rasa sakit itu pun dirasakan oleh suami dan anaknya yang baru berusia lima tahun.

Pagi itu, Khaled menerima telepon yang mengabarkan bahwa pasukan Zionis Israel telah menembak putrinya di dekat Desa Hizma di Tepi Barat, timur laut Al-Quds. Mai Yousef Afana, yang berprofesi sebagai psikiater, ditembak ketika sedang mengemudi menuju Ramallah karena ada janji medis dan ingin menemui temannya untuk sarapan bersama. Akan tetapi, pasukan Zionis Israel mengklaim bahwa Afana mencoba menabrak tentara Zionis dengan kendaraannya. Jasad Mai hingga kini ditahan oleh pasukan Zionis. Setelah membunuh afana tanpa alasan, pasukan Zionis tidak mengizinkan keluarganya melihat putri mereka untuk terakhir kalinya.

Keluarga terus memperjuangkan pengembalian jasad Afana agar dapat dikuburkan dengan layak. Selain mendirikan tenda di kampung halaman mereka di Abu Dis yang terletak di pinggiran Al-Quds, mereka juga melakukan demonstrasi setiap minggu di pintu masuk permukiman ilegal Zionis Israel di Maaleh Adunim demi menuntut pengembalian jasad Afana.

Sumber: twitter @m7mdkurd

Duka yang sama dirasakan juga di Silwad, timur laut Ramallah. Fatima Hammad kehilangan putranya, Mohammad Ruhi Hammad (30), akibat ditembak oleh pasukan Zionis Israel pada 14 Juni yang lalu. Mohammad ditembak hanya dua hari setelah Hari Raya Idulfitri. Pagi itu, Mohammad sempat sarapan bersama ibunya sebelum berangkat. Dua jam kemudian, ibu Mohammad mendapat kabar duka bahwa putranya ditembak oleh pasukan Zionis di dekat permukiman Ofra, dekat Silwad, akibat dituduh melakukan serangan dengan menabrakkan mobil.

Hampir tiga bulan setelah kematiannya, jasad Mohammad tidak kunjung dikembalikan ke keluarganya oleh pasukan Zionis. Tanah yang telah disiapkan untuk menguburkan Mohammad dibiarkan terbuka. Fatima secara rutin mengunjungi kuburan kosong itu, sebab jasad putranya masih berada di lemari es kamar mayat Zionis Israel.

Berdasarkan data dari Jerusalem Legal Aid and Human Rights Center (JLAC), Zionis Israel telah menahan 67 jenazah penduduk Palestina yang dibunuh pasukan Zionis antara tahun 2015 hingga 2020. Sementara itu, Palestinian National Campaign to Retrieve the Bodies of Martyrs mengatakan bahwa jumlah itu telah bertambah menjadi 81 jenazah pada 2021. Jasad-jasad tersebut disimpan di lemari es kamar mayat Zionis Israel dan mereka menolak mengembalikan jasad tersebut kepada keluarganya.

Zionis telah menahan jenazah penduduk Palestina sejak 1967 dan dijadikan alat untuk menjalankan strategi negosiasi mereka. Beberapa di antaranya, mereka kuburkan di tempat yang disebut ‘Pemakaman Angka’, sebab setiap kuburan hanya ditandai dengan angka, bukan nama dari jenazah yang dikuburkan. Sementara itu, sisa jenazah lainnya mereka simpan di lemari es kamar mayat. Menurut Hammad, setidaknya ada 350 jenazah penduduk Palestina di Pemakaman Angka, terhitung sejak 2015 hingga 2021. Sebelumnya, jenazah-jenazah tersebut ditahan dengan periode mulai dari tiga hari hingga lima tahun. Berdasarkan laporan dari kelompok HAM, jumlah ini meningkat banyak dari tahun 2017 yang berjumlah 249 jenazah.

Zionis sempat menghentikan strategi penahanan jenazah ini pada 2004 kemudian mengembalikan 90 jenazah pada 2012 dan 27 jenazah pada 2014 untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai antara pejabat Palestina dan Zionis Israel. Akan tetapi, penduduk Palestina kesulitan mengidentifikasi jenazah-jenazah tersebut karena hanya dikategorikan menggunakan nomor. Kebijakan penahanan jenazah ini juga sempat dihukumi ilegal oleh Pengadilan Zionis Israel pada 2017, tetapi keputusan tersebut dengan cepat dibatalkan.

Pada 2019, Pengadilan Tinggi Zionis Israel menyatakan bahwa menahan jasad merupakan hal legal bagi militer Zionis, dengan syarat individu yang dibunuh adalah anggota gerakan Hamas, atau mereka telah melakukan operasi signifikan. “Operasi signifikan” ini hanyalah istilah yang sesungguhnya diinterpretasi oleh tentara Zionis sesuai dengan keinginan mereka. Setahun kemudian, Kabinet Keamanan Zionis Israel memutuskan bahwa mereka dapat menahan semua jasad orang Palestina yang dibunuh dengan tuduhan melakukan serangan terhadap Zionis Israel walaupun mereka bukan termasuk anggota Hamas.

Photo from law4palestine.org

Taktik Zionis dalam menahan jenazah ini bertentangan dengan hukum internasional dan Konvensi Jenewa. Berdasarkan hukum internasional, setiap keluarga memiliki hak untuk menerima jenazah orang yang mereka cintai, terlepas dari status mereka sebagai orang Palestina yang dibunuh akibat kesalahan yang dituduhkan atas mereka. Konvensi Jenewa juga menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata harus saling menguburkan jenazah secara terhormat. Dalam tinjauan mengenai kepatuhan Zionis Israel terhadap Konvensi PBB tahun 2016, Komite PBB juga menentang tindakan ini dan menyatakan keprihatinannya terhadap praktik yang dijalankan oleh Zionis ini.

Kemanusiaan terus-menerus hilang ditelan arogansi politik apartheid. Bagi Zionis Israel, orang-orang Palestina tidak lebih dari sekadar angka. Ketika hidup, mereka tidak dihargai, bahkan setelah meninggal pun, jasad mereka tidak dihormati.

Sumber: Link 1 / Link 2 / Link 3 / Link 4 / Link 5 / Link 6

 

***

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Leave a Reply