Israel berencana mengalokasikan sekitar 730 juta dolar AS untuk memperkuat kampanye propaganda global di tengah meningkatnya isolasi internasional dan kritik atas agresinya di Gaza. Dana tersebut akan mereka salurkan ke direktorat diplomasi publik yang terkenal dengan sebutan Hasbara. Hasbara telah mengelola strategi komunikasi dan citra Israel di dunia. Anggaran ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya yang hanya sekitar 150 juta dolar AS.
Pemerintah Israel menyebut langkah ini sebagai upaya “memperbaiki citra internasional”. Namun, peningkatan ini terjadi di tengah tekanan global yang semakin besar, termasuk dugaan genosida di Gaza serta kritik atas kebijakan di Tepi Barat.
Baca juga : “71 Tahun Setelah KAA: Masih Relevankah Sikap Indonesia terhadap Palestina?”
Sejak Oktober 2023, lebih dari 250.000 warga Palestina menjadi korban terbunuh dan luka. Selain itu, mereka juga menjadi korban pengungsian massal dan krisis kemanusiaan parah. Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi subjek surat perintah penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional.
Survei Pew Research Center menunjukkan 60% warga AS kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, mencerminkan penurunan dukungan di berbagai kelompok.
Selain anggaran utama, Israel juga menggelontorkan dana untuk kampanye digital, kerja sama dengan influencer, serta penggunaan teknologi kecerdasan buatan untuk memantau dan membentuk opini publik global.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)