Ribuan warga menghadiri pemakaman massal 112 warga Gaza pada Selasa (4/8/2026). Mereka mengantar jasad para korban menuju Pemakaman Baptis di kawasan Zeitoun. Prosesi ini menjadi momen emosional yang menghadirkan kelegaan sekaligus membangkitkan kembali duka mendalam bagi keluarga. Proses ini berlangsung setelah warga berjuang mencari kerabat mereka selama hampir tiga tahun.
Korban berasal dari keluarga Abu Shari’a dan Al-Hasayneh. Serangan udara Israel pada 23 November 2023 menghancurkan permukiman mereka di kawasan Sabra. Saat itu, ratusan anggota keluarga berlindung di dalam rumah. Namun, serangan tersebut membunuh lebih dari 300 orang, termasuk puluhan anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.
Selama hampir tiga tahun, tim Pertahanan Sipil Gaza menghadapi kendala ekstrem dalam proses evakuasi. Ini terjadi akibat minimnya ketersediaan alat berat. Setelah melalui operasi pencarian intensif selama 17 hari di bawah puing-puing, petugas akhirnya berhasil menemukan 112 jenazah tersebut agar dapat dimakamkan secara layak. Kendati demikian, peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa masih ada ribuan korban lain yang terkubur di bawah reruntuhan bangunan yang belum tersentuh evakuasi.
Sementara itu, otoritas Gaza memperkirakan sekitar 9.500 orang masih berada di bawah reruntuhan, meski data resmi mencatat sekitar 6.000 orang hilang. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 73.000 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 170.000 lainnya terluka sejak Oktober 2023. Karena itu, pemakaman massal 112 warga Gaza menjadi pengingat bahwa ribuan keluarga Palestina masih menunggu kepastian nasib orang-orang yang mereka cintai.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)