Musim panas di Gaza memperburuk kondisi jutaan warga Palestina yang masih tinggal di tenda pengungsian. Di tengah minimnya air, listrik, dan tempat berteduh, musim panas memicu berbagai masalah kesehatan serta membuat kehidupan sehari-hari di Gaza semakin berat.
Rajaa Jendiya, seorang ibu tiga anak di Kota Gaza, menggambarkan tendanya seperti rumah kaca. Panas terperangkap di dalamnya hingga membuat penghuni sulit bernapas. Pada malam hari, nyamuk menyerang. Saat siang tiba, lalat dan berbagai serangga memenuhi area pengungsian.
UNICEF memperkirakan sekitar 1,9 juta dari 2,1 juta penduduk Gaza masih mengungsi. Banyak keluarga tinggal di sekolah atau tenda darurat setelah serangan Israel menghancurkan rumah mereka. Pada musim panas kasus penyakit kulit seperti kudis, infeksi jamur, ruam, dan kutu semakin meningkat, terutama pada anak-anak.
Selain itu, lebih dari 80 persen infrastruktur air dan sanitasi di Gaza mengalami kerusakan sehingga membuat warga kesulitan mandi atau memperoleh air bersih. Mereka bahkan harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan air minum dari truk distribusi bantuan.
Warga yang masih memiliki rumah pun menghadapi kesulitan serupa. Listrik belum pulih sehingga kipas angin dan pendingin ruangan tidak dapat digunakan. Harga listrik dari generator swasta juga sangat mahal. Musim panas di Gaza kini menjadi ancaman baru bagi kesehatan, keselamatan, dan kelangsungan hidup warga yang masih bertahan di tengah krisis berkepanjangan.
Sumber: MEE








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)