Ancaman cuaca ekstrem menjelang musim dingin kini menghantui jutaan warga Palestina di Jalur Gaza yang bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian, pusat penampungan, serta bangunan-bangunan yang mengalami kerusakan parah akibat perang. Suhu rendah, angin kencang, hujan deras, serta risiko banjir diproyeksikan akan semakin memperburuk situasi kemanusiaan.
Kementerian Pembangunan Sosial Gaza telah mengeluarkan seruan mendesak agar bantuan kemanusiaan segera dikirimkan sebelum musim hujan benar-benar tiba. Mereka meminta seluruh lembaga kemanusiaan memperkuat koordinasi untuk menyuplai tenda yang layak, selimut tebal, serta perlengkapan esensial guna melindungi warga dari terpaan cuaca dingin.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa sekitar 1,2 juta warga Gaza saat ini menghadapi kondisi tempat tinggal yang dikategorikan sangat buruk hingga kritis. Sebagian besar dari mereka terpaksa tinggal di ratusan bangunan rusak yang sangat rawan ambruk.
Situasi ini semakin pelik akibat ketatnya pembatasan dan keterlambatan masuknya pasokan materialperbaikan ke dalam wilayah Gaza. Akibat blokade yang berlanjut, warga kesulitan mendapatkan bahan-bahan dasar penampungan seperti tenda baru, terpal plastik, kayu, dan peralatan penguatan struktur bangunan.
Data dari UNICEF memperkuat urgensi krisis ini dengan mencatat bahwa hampir 84 persen penduduk Gaza, setara dengan lebih dari 1,76 juta orang, kini hidup di lokasi pengungsian yang sangat padat atau di dalam bangunan rusak tanpa perlindungan memadai dari cuaca ekstrem.
UNICEF secara resmi meluncurkan seruan pendanaan sebesar USD 97,5 juta dolar (sekitar Rp1,5 triliun). Dana darurat ini difokuskan untuk melindungi 540.000 anak dan keluarga rentan di Gaza serta Tepi Barat selama periode musim dingin.
Bantuan tersebut mencakup pakaian hangat, selimut, tenda, penguatan tempat tinggal, dan bantuan tunai darurat. UNICEF juga menyiapkan langkah untuk mengurangi risiko banjir dan penyakit.
Dengan semakin dekatnya musim dingin, kebutuhan mendesak warga Gaza tidak lagi terbatas pada pasokan pangan dan layanan medis semata, melainkan juga ketersediaan tempat berlindung yang aman untuk menyelamatkan jutaan jiwa dari ancaman cuaca beku.
Sumber: Palinfo








