• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Jumat, Oktober 16, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Berita Kemanusiaan Anak

Mendekap yang Tersisa: Menjaga Anak Yatim Gaza Tetap Tumbuh

Mengapa kebutuhan anak-anak yatim Gaza justru terus bertumbuh—dan bagaimana kita menjaganya.

by Adara Relief International
Oktober 16, 2026
in Anak, Berita Kemanusiaan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Mendekap yang Tersisa: Menjaga Anak Yatim Gaza Tetap Tumbuh
20
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pagi datang perlahan ke sebuah tenda pengungsian di Gaza. Di luar, jalanan mulai ramai lagi—sesuatu yang beberapa bulan lalu terasa mustahil. Sejak gencatan senjata, barang-barang kembali muncul di lapak: karung tepung, sayur, kaleng makanan, telur yang sempat hilang berbulan-bulan. Sekilas, seolah kehidupan sedang pulih.

Tapi di dalam tenda, kompor masih tak menyala. Bukan karena tak ada makanan di pasar, melainkan karena tak ada uang untuk membelinya. Bagi banyak keluarga—terutama yang kini menampung anak-anak yatim—pemandangan pasar yang kembali penuh justru terasa seperti pintu kaca: semuanya terlihat, tak satupun terjangkau. 

Inilah paradoks Gaza hari ini, dan inilah alasan Adara Relief menyesuaikan dukungan bulanan program Dekap Yatim Palestina (DYP) saat ini. 

Sebuah Generasi yang Terjebak dalam Siklus Kehilangan

Agresi yang berlangsung lebih dari dua tahun meninggalkan luka yang paling dalam pada anak-anak. Skalanya termasuk yang tercepat dan terpadat di dunia. UNICEF memperkirakan lebih dari 17.000 anak kini tidak didampingi atau terpisah dari keluarganya, dan sekitar 19.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina mencatat angka yang jauh lebih besar, yaitu lebih dari 58.550 anak per November 2025, adapun Kementerian Pembangunan Sosial Gaza menyebut 64.616 anak per April 2026. Ribuan di antaranya kehilangan ayah sekaligus ibu. Ya, mereka hidup tanpa dekapan hangat orang tua tercinta. 

Angka-angka ini adalah estimasi. Memverifikasinya nyaris mustahil di tengah kondisi keamanan yang runtuh. Namun, perbedaan itu sendiri bercerita: tak seorang pun benar-benar sanggup menghitung seluruh kehilangan ini. Yang pasti, di balik setiap angka ada seorang yang menunggu—menunggu wajah yang tak akan kembali dari jendela yang mungkin sudah tidak ada lagi.

Salah satunya adalah seorang anak perempuan yatim penerima program DYP, bernama Maryam Essam Omar Al‐Katnani yang berusia 12 tahun. Saat ini, Maryam tinggal bersama ibu dan saudara-saudaranya dalam keluarga yang tidak lagi memiliki penghasilan tetap. Untuk makan, mereka bergantung pada dapur umum dan bantuan kemanusiaan, sementara air minum mereka diperoleh dari titik-titik distribusi air. 

Ketika Kehilangan Orang Tua Berarti Kehilangan Nafkah

Menjadi yatim di Gaza bukan sekadar kehilangan pelukan. Dia berarti hilangnya sumber penghidupan. Anak-anak ini umumnya diasuh oleh seorang ibu tunggal, nenek yang renta, atau kerabat yang dirinya sendiri sudah menjadi pengungsi tanpa apa-apa. Mereka menampung dengan cinta, tapi tanpa pemasukan: pengangguran di Gaza menembus 80 persen, dan lapangan kerja nyaris lenyap bersama reruntuhan.

Dalam keadaan seperti ini, bantuan tunai rutin bukanlah pelengkap yang bagus untuk dimiliki. Dia adalah tali yang menahan sebuah keluarga agar tidak jatuh sepenuhnya. Bantuan tunai rutin membuat mereka bertahan memenuhi kebutuhan paling mendasar seorang anak, mulai dari makanan, air bersih, hingga perlengkapan sekolah, tanpa harus menggantungkan hidup pada keberuntungan hari itu.

“Ada Barang” Tidak Sama dengan “Anak Kenyang”

Di sinilah letak kesalahpahaman yang paling sering terjadi. Memang benar harga pangan sudah turun jauh dibanding puncak kelaparan tahun 2025. Namun, “lebih murah daripada masa kelaparan” tidak sama dengan “murah”. Sejumlah kebutuhan pokok, terutama sumber protein seperti telur dan ayam, masih berharga jauh di atas level sebelum agresi. Yang lebih berat lagi, harga yang sudah turun itu pun tetap di luar jangkauan: warga Gaza kehilangan pekerjaan, penghasilan, dan tabungan, sehingga nyaris tak punya uang untuk membeli apa yang kini tersedia di pasar. 

Barang-barang kebutuhan pokok pun kembali, tapi harga turun—lalu mengapa kebutuhan justru meningkat? Jawabannya: karena bertahan hidup dan hidup yang layak adalah dua hal yang berbeda.

Baca Juga

Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Meninggal Akibat Blokade

Pakar PBB Desak FAO Tegakkan HAM dan Lindungi Pekerja yang Mendokumentasikan Kelaparan di Gaza

Mari kita bayangkan sejenak bagaimana seorang ibu di sebuah pengungsian menyusuri jalanan dan lapak-lapak pasar sembari menggandeng tangan mungil anaknya yang ia asuh seorang diri. Di sisi lain, berbagai bahan pokok: daging, sayur, dan buah telah terpajang kembali, sebuah pemandangan yang beberapa bulan lalu terasa mustahil ada. Dia berhenti di depan setumpuk sayuran, menimbang-nimbang cukup lama, lalu melangkah lagi. Bukan karena sayurnya tidak ada, melainkan karena uang di tangannya tidak cukup. 

Inilah yang terjadi pada keluarga anak yatim di Gaza saat ini, dan kejadian ini bukanlah satu-satunya. Menurut laporan IPC Agustus 2026, lebih dari 1,4 juta orang, dua pertiga penduduk Gaza, diproyeksikan menghadapi kondisi krisis pangan atau lebih buruk hingga Desember 2026. Rak toko yang penuh tidak berarti apa-apa bagi keluarga yang kantongnya kosong. Dan karena uang tunai langka, banyak transaksi harus dilakukan secara digital, yang membuat harga yang dibayar rata-rata sekitar 35 persen lebih mahal daripada harga tunai (WFP Market Monitor, 2026). Selain itu, bahan bakar juga langka dan mahal, hingga pada satu titik lebih dari separuh warga terpaksa membakar sampah untuk menyalakan api (WFP, Maret 2026). 

Harga pangan Gaza 2026 dalam shekel dan rupiah. (Sumber: WFP, PCBS, IPC).
Harga pangan Gaza 2026 dalam shekel dan rupiah. (Sumber: WFP, PCBS, IPC).

Jika semua ini dijumlah, maka akan memberikan arti satu hal sederhana: nilai bantuan yang lama tak lagi cukup untuk menutup satu bulan hidup yang layak bagi seorang anak. Dukungan yang memadai juga memberi keluarga bantalan menghadapi guncangan yang datang tanpa aba-aba. 

Tiga Hal yang Menentukan Masa Depan Seorang Anak

Dukungan yang diberikan selama ini kepada anak yatim Gaza melalui program DYP bukan sekadar mengisi perut. Dia menopang tiga hal yang menentukan apakah seorang anak yatim di sana hanya akan bertahan hidup, atau benar-benar tumbuh: pangan, pendidikan, dan kesehatan.

  • Pangan: bukan lagi soal kelaparan akut, tapi soal bertumbuh

Gaza SMART Survey (UNICEF, Mei–Juni 2026) mencatat gizi buruk akut kini rendah, sekitar 0,2–0,8 persen, namun 12,2 persen balita mengalami stunting permanen. UNICEF memperkirakan 320.000 anak balita masih berisiko kekurangan gizi, 100.000 di antaranya perlu penanganan wasting. Bagi anak yatim, makanan bergizi yang beragam membedakan sekadar hidup dari tumbuh dengan kuat.

  • Pendidikan: sebuah generasi yang terancam hilang

Untuk tahun ajaran keempat berturut-turut, anak-anak Gaza tak punya akses pendidikan yang aman (Save the Children, September 2026). Sekitar 97–98 persen sekolah rusak atau hancur, lebih dari 90 persen perlu rehabilitasi besar atau dibangun ulang, dan sekitar 60 persen anak belum bisa belajar tatap muka (UNICEF). Studi Universitas Cambridge bersama UNRWA memperingatkan munculnya “generasi yang hilang”. Anak yatim paling rentan putus sekolah; dukungan bulanan menjaga mereka tetap belajar lewat ruang belajar sementara, perlengkapan sekolah, dan pendampingan.

  • Kesehatan: layanan yang runtuh dan luka yang tak terlihat

Rumah sakit hancur, imunisasi rutin terputus, layanan ibu dan bayi baru lahir terganggu, dan penyakit yang bisa dicegah kembali meningkat (UNICEF). Sebanyak 1,9 dari 2,1 juta penduduk masih mengungsi dengan air bersih dan sanitasi yang rusak parah. Anak-anak juga memikul trauma, sehingga pendampingan psikososial adalah kebutuhan pokok. Dukungan bulanan membuka akses layanan kesehatan dasar, air bersih, dan pendampingan pemulihan.

Di balik luka fisik, ada luka yang tak kasat mata: trauma. Anak-anak yang menyaksikan kehilangan memikul beban psikologis yang jauh lebih berat dari usia mereka, dan pendampingan psikososial menjadi kebutuhan pokok, bukan kemewahan. Dukungan bulanan ikut membuka kembali akses ke layanan kesehatan dasar, air bersih, dan pendampingan yang membantu seorang anak perlahan pulih. 

Peningkatan Bantuan Program DYP oleh Adara, dari Rp700.000 ke Rp950.000: Sebuah Penyesuaian yang Bertanggung Jawab

Selama lima tahun, program Dekap Yatim Palestina (DYP) Adara telah menyertai perjalanan anak-anak yatim di Gaza—memastikan mereka tetap makan, tetap belajar, dan tidak menghadapi kehilangan seorang diri. Justru karena komitmen jangka panjang inilah kami merasa perlu terus menilai ulang apakah nilai dukungan masih memadai bagi kebutuhan yang berubah di lapangan.

Kenaikan sekitar 36 persen ini bukan sembarang angka yang terpilih. Dia adalah upaya mengembalikan daya bantuan agar kembali menutup kebutuhan nyata di lapangan—selisih Rp250.000 yang memisahkan antara sekadar bertahan dan hidup yang layak.

Kenaikan biaya bantuan ini mengacu pada Cash Working Group PBB dan OCHA menetapkan nilai kebutuhan minimum (Minimum Expenditure Basket) sebesar 1.250 shekel—yaitu sekitar Rp7.250.000— untuk satu keluarga selama sebulan. Dibagi ke rata-rata anggota keluarga di Gaza, kebutuhan minimum seorang anak berkisar Rp1,4 juta per bulan. Artinya, bantuan sebelumnya sebesar Rp700.000 hanya mampu menutup sekitar separuh kebutuhan minimum bulanan seorang anak—praktis habis dalam waktu sekitar dua pekan, atau mungkin bisa lebih cepat dari perkiraan. Bahkan, setelah dinaikkan menjadi Rp950.000 pun, dukungan ini belum sepenuhnya menutup kebutuhan minimum seorang anak. Kenaikan ini bukan kemewahan bagi anak yatim Gaza, melainkan mempersempit jurang yang masih menganga.

Yang kita jaga bukan sekadar hidup, tapi masa depan

Gencatan senjata mungkin telah menghentikan sebagian kekerasan, tapi tidak mengembalikan apa yang telah hilang. Pembatasan masuknya barang dan ekonomi yang runtuh membuat penderitaan berlanjut, jauh setelah kamera dunia berpaling.

Di tengah itu semua, seorang anak yatim di Gaza tetap tumbuh. Ia tetap butuh makan, tetap butuh sekolah, tetap butuh alasan untuk percaya bahwa hari esok bisa lebih baik. Tambahan Rp250.000 setiap bulan mungkin terdengar kecil dari sini—tapi di sana, ia bisa menjadi perbedaan antara satu piring yang layak dan tenda yang gelap.

Mendekap seorang anak yatim Palestina berarti menolak membiarkannya menghadapi semua ini sendirian. Terima kasih telah menjaga mereka tetap tumbuh.

“Aku mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kafalah yang kalian berikan kepada kami—bantuan yang begitu penting bagi kelangsungan hidup kami. Kami berharap kalian terus menyertai kami dengan kafalah ini. Aku berterima kasih atas bantuan kalian yang konsisten bagi anak-anak yatim yang membutuhkan. Aku memohon kepada Allah agar menganugerahkan surga untuk kalian, dan menjadikan setiap yang kalian berikan sebagai timbangan kebaikan bagi kalian. Semoga Allah memberkahi kalian,” ucap Touka Abou Dakka, salah satu penerima manfaat program DYP. 

ShareTweetSendShare
Previous Post

Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Meninggal Akibat Blokade

Adara Relief International

Related Posts

Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Meninggal Akibat Blokade
Berita Kemanusiaan

Setahun Gencatan Senjata, Warga Gaza Masih Meninggal Akibat Blokade

by Adara Relief International
Oktober 14, 2026
0
21

Setahun setelah gencatan senjata berlaku, warga Palestina di Gaza masih meninggal akibat penyakit yang dapat dicegah, sulitnya akses pengobatan, dan...

Read moreDetails
Pakar PBB Desak FAO Tegakkan HAM dan Lindungi Pekerja yang Mendokumentasikan Kelaparan di Gaza

Pakar PBB Desak FAO Tegakkan HAM dan Lindungi Pekerja yang Mendokumentasikan Kelaparan di Gaza

Oktober 14, 2026
16
Rumah Rusak di Gaza Terancam Runtuh, Warga Kembali Mengungsi

Rumah Rusak di Gaza Terancam Runtuh, Warga Kembali Mengungsi

Oktober 14, 2026
19
Der Spiegel: Tentara Israel Ungkap Kejahatan Perang di Gaza

Der Spiegel: Tentara Israel Ungkap Kejahatan Perang di Gaza

Oktober 14, 2026
25
PBB Verifikasi 1.076 Kematian Warga Palestina di Gaza Selama Gencatan Senjata

PBB Verifikasi 1.076 Kematian Warga Palestina di Gaza Selama Gencatan Senjata

Oktober 14, 2026
19
Gencatan Senjata Dilanggar, Israel Bunuh Lima Warga Gaza dalam 24 Jam Terakhir

Gencatan Senjata Dilanggar, Israel Bunuh Lima Warga Gaza dalam 24 Jam Terakhir

Oktober 13, 2026
21

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    Ketika Luka Sesama Adalah Luka Kita: Upaya Menyatukan Kepingan Ukhuwah Melalui Kepedulian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bagaimana Al-Qur’an Membangun Cara Pandang Islam terhadap Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Kemanusiaan Batch Dua Sahabat Adara Tiba di Nusa Tenggara Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

Milad ke-18 Adara: Untaian Doa untuk Indonesia dan Palestina dari Syekh Palestina

00:02:23

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Buku Edukasi
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
    • Profil Adara
    • Impact Report
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630