Situasi keamanan di wilayah pendudukan Tepi Barat semakin memburuk menyusul lonjakan eskalasi militer dan teror pemukim. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa jumlah warga Palestina yang terbunuh di Tepi Barat telah mencapai angka 100 orang sejak awal 2026, setelah empat korban jiwa kembali jatuh akibat tembakan pasukan Israel dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Rangkaian pembunuhan terbaru ini tersebar di sejumlah wilayah utama, yakni Nablus, Qalqilya, dan Tulkarem. Di Nablus, pasukan Israel menembak Mahmoud Mohsen, 34 tahun, asal Qabalan. Ia meninggal akibat luka tembak yang dideritanya. Pasukan Israel hingga kini masih menahan jenazahnya.
Baca juga: Bezalel Smotrich Nyatakan Kesepakatan Oslo Batal, Klaim Wilayah Tepi Barat Milik Israel
Di wilayah yang sama, Abdul-Karim Suleiman juga terbunuh setelah pasukan Israel mengepung sebuah rumah. Pengepungan tersebut berlangsung sekitar lima jam di Aqraba, tenggara Nablus. Pasukan Israel kemudian membunuh Suleiman dalam operasi tersebut.
Sementara itu, di Qalqilya, Omar al-Tubasi meninggal akibat luka tembak di kepala. Pemukim Yahudi ekstrem menembaknya saat menyerang Desa Hajjah. Serangan tersebut juga melukai sejumlah warga Palestina lainnya dan menambah jumlah korban kekerasan di Tepi Barat.
Di Tulkarem, tim pertahanan sipil menemukan jenazah Asaad Maliha di dalam fasilitas Komite Zakat setempat. Maliha, yang merupakan warga asal Gaza dan tinggal bersama para pekerja lain di gedung tersebut, terbunuh dalam operasi penyerbuan yang dilancarkan militer Israel. Maliha merupakan warga Gaza yang tinggal bersama sejumlah pekerja di fasilitas Komite Zakat setempat.
Tim menemukan Maliha terbunuh setelah pasukan Israel menyerbu gedung tersebut. Kematian tersebut kembali menambah korban Palestina di Tepi Barat.
Akumulasi 100 korban jiwa sejak Januari 2026 ini memperlihatkan beratnya penderitaan dan tingkat bahaya yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat. Kombinasi operasi militer berskala besar, penahanan jenazah, pengepungan rumah, serta aksi kekerasan terstruktur oleh pemukim ekstremis terus memperkeruh kondisi kemanusiaan di wilayah pendudukan tersebut.
Sumber: Palinfo








