Pejabat penjaga perdamaian PBB memperingatkan bahwa situasi di lapangan semakin berbahaya, seiring meningkatnya risiko terhadap personel misi internasional.
Jean-Pierre Lacroix menyatakan bahwa lima personel penjaga perdamaian dari United Nations Interim Force in Lebanon telah terbunuh dalam beberapa pekan terakhir. Insiden ini menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap pasukan PBB yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah konflik.
Ia menegaskan bahwa para penjaga perdamaian kini beroperasi dalam kondisi yang sangat tidak stabil, sambil tetap berupaya melindungi warga sipil.
Baca juga: “Investigasi PBB: Tentara Perdamaian Indonesia Terbunuh Akibat Proyektil Israel”
Terkait situasi di Lebanon, Lacroix menyebut keberadaan pasukan Israel di wilayah tersebut sebagai pelanggaran terhadap United Nations Security Council Resolution 1701. Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang tidak dapat tercapai melalui kekuatan militer semata. Akan tetapi, solusi tersebut harus melalui kesepakatan politik yang mendapat dukungan dari otoritas Lebanon dan komunitas internasional.
Selain ancaman keamanan, operasi tersebut juga menghadapi tekanan finansial serius. Lacroix mengungkapkan bahwa kekurangan dana telah memaksa pengurangan sekitar 25 persen kapasitas operasional misi tersebut.
Dampaknya langsung terasa di lapangan, termasuk menurunnya kemampuan untuk melindungi warga sipil dan merespons eskalasi ketegangan di kawasan.
Ia memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, misi penjaga perdamaian PBB berisiko tidak lagi mampu menjalankan mandat utamanya secara efektif.







