Hukum Patungan Kurban

Di Hari Raya Idul adha, seluruh umat Islam menyambut kegembiraan dan kebahagiaan dengan menyembelih hewan kurban dan berbagi daging kurban. Di momen ini, solidaritas masyarakat benar- benar terbangun, semua kegiatan terasa mengandung efek sosial yang kuat. Jual beli hewan kurban, pembentukan panitia kurban, penyembelihan hewan kurban hingga pembagian hewan kurban.

Di saat yang menggembirakan ini, masyarakat bersemangat untuk melaksanakan ibadah yang hadir setiap tahun ini. Mereka yang memiliki keluasan rizki dan kemampuan untuk berkurban, lebih mudah untuk melaksanakan ibadah kurban ini, lantas bagaimana mereka yang ingin berkurban namun belum memiliki kemampuan untuk berkurban sendiri? Apakah bisa dilakukan dengan patungan? Dan bagaimana hukum patungan ini, bisa mendapat pahala berkurban atau tidak?

Dalam Ahkamul Udhiyah wa Dzakah[1] dinyatakan bahwa patungan atau urunan beberapa orang dalam kegiatan berkurban itu ada dua:

Pertama, patungan dalam pahala

Yang dimaksud patungan dalam pahala, seorang shohibul Kurban (pemilik hewan kurban) menyembelih hewan kurbannya dengan menyertakan beberapa orang untuk turut mendapatkan pahalanya. Pembagian semacam ini dibolehkan, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa dalil berikut:

  1. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengisahkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberkurban dengan kambing bertanduk, berdiri dengan kaki belang hitam, duduk di atas perut belang hitam, melihat dengan mata belang hitam. Kemudian beliau menyuruh Aisyah untuk mengambilkan pisau dan mengasahnya. Setelah kambingnya beliau baringkan, beliau membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Bismillah, Ya Allah, terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam – .” (HR. Muslim no. 1967)

  1. Jabir bin Abdillahradhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengikuti shalat idul adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di lapangan. Setelah selesai berkhutbah, beliau turun dari mimbar dan mendatangi kambing kurban beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

Bismillah, wallahu akbar, ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berkurban. (HR. Ahmad 14837, Abu Daud 2810 dan dishahihkan Al-Albani).

Pada pernyataan di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyertakan keluarga beliau dan umat beliau dalam pahala kurban yang beliau sembelih. Padahal saat itu, beliau hanya menyembelih kambing. Sehingga seluruh umat beliau yang tidak mampu berkurban, mendapatkan pahala dari qurban beliau[2].

Kedua, Patungan dalam kepemilikan

Yang dimaksud dari patungan dalam kepemilikan ini, beberapa orang patungan atau urunan dalam membeli seekor hewan kurban.

Dalam hal ini hukumnya tidak dibolehkan, kecuali untuk patungan sapi dan onta, dengan jumlah maksimal 7 orang. Berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melaksanakan haji.

فأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نشترك في الإبل والبقر، كل سبعة منا في بدنة

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami urunan untuk berkurban onta atau sapi. Setiap tujuh orang diantara kami, berkurban seekor sapi atau onta. (HR. Muslim no. 1318).

وَعَنْ جَابِرِ بنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: – نَحَرْنَا مَعَ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – عَامَ اَلْحُدَيْبِيَةِ: اَلْبَدَنَةَ عَنْ سَبْعَةٍ, وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ – رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Kami pernah berkurban (melakukan nahr atau penyembelihan) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, yaitu kami berkurban untuk unta dengan patungan tujuh orang. Sedangkan sapi untuk patungan tujuh orang.” (HR. Muslim)

كنا نتمتع مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فنذبح البقرة عن سبعة نشترك فيها

Kami melakukan haji tamattu’ bersama Rasulullah Saw. Kami menyembelih sapi untuk tujuh orang dimana kami saling bersekutu pada hewan itu. (HR. Muslim)

Maka, ketentuan diperbolehkan patungan atau urunan dalam kurban untuk membeli sapi atau onta atau sejenisnya.

Oleh karena itu, jika ada urunan atau patungan yang diterapkan di beberapa sekolah, lembaga, komunitas, atau kelompok-kelompok tertentu untuk membeli seekor kambing, tidak dinilai sebagai kurban, karena kambing yang dibeli dari hasil urunan menjadi milik seluruh anggota urunan. Sehingga tidak memenuhi syarat jumlah kepemilikan.

Solusinya, kambing ini bisa menjadi hewan kurban, jika dihadiahkan untuk seseorang, baik untuk salah satu anggota yang ikut urunan atau orang lain. Misalnya, dihadiahkan untuk anak asuhnya, gurunya, atau sesuai dengan kesepakatan bersama. Sehingga kambing ini menjadi milik satu orang. Selanjutnya orang tersebut bisa berkurban dengan kambing itu, dan boleh menyertakan orang lain untuk turut mendapatkan pahalanya.

Allahu A’lam

 

[1] Hlm. 26

[2] Ahkam Al-Idain fi As-Sunnah Al-Muthahharah, Ali bin Hasan Al-Halabi, hlm. 79

 

***

Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.

Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina.

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di FacebookTwitterYouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar  program bantuan untuk Palestina.

Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Donasi

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.

Free Email Updates
We respect your privacy.

Leave a Reply