Departemen Hibah Patriarkat Latin Al-Quds (Yerusalem) mengajukan keluhan resmi kepada otoritas Israel terkait pelanggaran oleh pemukim terhadap lahan milik gereja di wilayah Tayasir, Tubas, Tepi Barat.
Dalam pernyataannya, departemen tersebut merinci serangkaian serangan terhadap warga lokal serta perusakan lahan milik gereja di beberapa lokasi. Menanggapi laporan itu, otoritas Israel mulai mengambil langkah, termasuk mengejar pelaku dan menyita alat berat yang digunakan untuk merusak lahan.
Dalam pertemuan dengan perwakilan militer Israel dan administrasi sipil, pihak gereja menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan “pelanggaran jelas terhadap properti gereja”. Mereka menuntut penghentian segera segala bentuk kerusakan, pencegahan pelanggaran lanjutan, serta perlindungan hukum atas lahan gereja.
Departemen juga menyatakan dukungannya kepada warga setempat dan menegaskan komitmen untuk membantu mereka tetap bertahan, menjaga martabat, serta hidup aman. “Melindungi properti hibah gereja adalah garis merah,” tegas pernyataan itu.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya serangan oleh pemukim dan pasukan Israel di Tepi Barat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Data Palestina mencatat lebih dari 1.150 warga terbunuh dan ribuan lainnya terluka dalam periode tersebut.
Sementara itu, Komisi Perlawanan Tembok dan Kolonisasi melaporkan sedikitnya 1.819 serangan terjadi sepanjang Maret saja, termasuk ratusan serangan oleh pemukim.
Pihak gereja menegaskan akan menempuh seluruh langkah hukum dan administratif guna melindungi hak serta identitas keagamaan mereka. Tindakan tersebut sekaligus untuk memastikan keberlanjutan dukungan bagi komunitas lokal di tengah eskalasi yang terus berlangsung.








