Pihak berwenang di Gaza mulai membersihkan sekitar 370.000 metrik ton sampah yang menumpuk di area Pasar Firas di pusat Kota Gaza.
Amjad al-Shawa, direktur Jaringan Organisasi Non-Pemerintah Palestina (PNGO), mengatakan pada Rabu (11/02) bahwa sampah telah menumpuk sejak pecahnya genosida lebih dari dua tahun lalu. Tumpukan sampah telah mengubah lokasi tersebut menjadi bahaya besar bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan di tengah hampir runtuhnya layanan dasar.
Al-Shawa menggambarkan upaya pembersihan tersebut sebagai langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan langsung bagi warga. Ia mengatakan bahwa operasi pembersihan ini mendapat dukungan dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Gaza dan organisasi masyarakat sipil. Namun, ia tidak merinci lokasi pengangkutan sampah-sampah tersebut.
Sebelum genosida, sampah diangkut ke tempat pembuangan sampah utama di daerah Juhr al-Dik. Pembuangan tersebut terletak di dekat tepi selatan Kota Gaza, dekat dengan pagar keamanan.
Tumpukan Sampah Ancam Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan
Upaya pembersihan ini terjadi di tengah krisis lingkungan yang semakin parah di Gaza, menyusul kerusakan infrastruktur yang meluas. Pemerintah Kota Gaza sebelumnya memperingatkan bahwa lebih dari 500.000 meter kubik sampah telah menumpuk di jalan-jalan dan tempat pembuangan sampah sementara. Namun, petugas kota masih belum dapat mengakses tempat pembuangan sampah utama di Juhr al-Dik.
Para pejabat kota telah memperingatkan bahwa penumpukan sampah yang besar menciptakan kondisi ideal untuk penyebaran penyakit menular. Selain itu, sampah juga menjadi lokasi perkembangbiakan tikus, nyamuk, dan lalat. Hal tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.
Krisis ini semakin parah akibat pembatasan impor bahan pengendali hama yang efektif. Akibatnya, hanya tersisa alternatif yang terbatas dan kurang efektif di dalam wilayah tersebut.
Sebelum genosida, Gaza menghasilkan sekitar 2.000 ton sampah padat setiap hari, menurut data pra-genosida dari Otoritas Kualitas Air dan Lingkungan. Sampah organik menyumbang 65 persen dari total, kemudian sampah plastik (16,1 persen), kertas (8,1 persen), logam (3 persen), dan bahan-bahan lain termasuk pasir, puing-puing konstruksi, dan sampah pertanian.
Sistem lingkungan di seluruh Gaza hampir runtuh setelah pasukan pendudukan Israel menghancurkan jaringan air, sistem pembuangan limbah, instalasi pusat pengolahan limbah, dan sebagian besar stasiun pompa. Air limbah yang terus mengalir tanpa melalui proses pengolahan semakin memperparah pencemaran lingkungan di seluruh wilayah tersebut.
Sumber: Palinfo








