Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Senin (6/04), di tengah penutupan yang telah berlangsung selama 38 hari.
Menurut otoritas Wakaf, ia masuk melalui Gerbang al-Maghariba dengan pengawalan ketat polisi Israel, sementara pasukan memberlakukan pembatasan militer di sekitar Kota Tua Al-Quds (Yerusalem). Israel menutup akses gerbang, membatasi pergerakan warga, dan mencegah jemaah Muslim memasuki masjid.
Penyerbuan ini terjadi di tengah meningkatnya seruan kelompok pemukim untuk memperluas aktivitas di Al-Aqsa. Sejak 2023, Ben-Gvir tercatat telah beberapa kali melakukan perambahan serupa.
Baca juga : “Eskalasi di Al-Aqsa: Upaya Kurban dan Penutupan Situs Suci“
Pihak Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap status quo dan ancaman terhadap kesucian Al-Aqsa. Mereka menilai masuknya pejabat Israel serta aktivitas nonmuslim ke dalam kompleks sebagai langkah sistematis untuk mengubah identitas kawasan.
Penutupan Al-Aqsa—bersama Gereja Holy Sepulchre—Israel lakukan dengan dalih keamanan. Namun, Palestina menilai hal tersebut sebagai upaya memperketat kontrol dan membatasi akses ibadah. Selama penutupan, area masjid nyaris kosong, hanya petugas Wakaf Islam yang hadir di sana.
Sejumlah pihak juga memperingatkan eskalasi baru setelah adanya keputusan yang memungkinkan ratusan pemukim memasuki area tersebut setiap hari. Langkah diskriminatif ini dinilai berpotensi memicu ketegangan lebih luas di Al-Quds (Yerusalem).
Di tengah situasi ini, warga Palestina terus menyerukan mobilisasi untuk mempertahankan akses ke Al-Aqsa, sebagai bentuk perlawanan terhadap perubahan status situs suci tersebut.








