Bagi ribuan anak yatim penerima program Dekap Yatim Palestina (DYP), libur sekolah musim panas bukanlah waktu untuk berlibur. Mereka menghabiskan hari-hari di tenda dan tempat pengungsian. Anak-anak ini seolah dituntut untuk menjalankan peran yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa: membantu pengasuhnya untuk mengambil air dan keperluan pokok harian untuk dihidangkan di meja makan. Meski begitu, jika situasi terbilang aman, mereka tetap berusaha menciptakan ruang bermain untuk menghibur diri di tengah luka kehilangan. Sebagian dari mereka juga mengikuti sesi membaca, menggambar, kegiatan Al-Qur’an, hingga sesi psikososial yang diadakan oleh tim kemanusiaan. Meski cuaca panas, lokasi yang padat, dan ancaman keamanan sering memaksa permainan berhenti, rutinitas kecil itu memberi mereka sedikit rasa normal.

Di tengah musim panas ini, kondisi anak-anak di Gaza semakin sulit. Di sekitar mereka, keadaan tidak membaik meskipun status gencatan senjata yang telah berlangsung selama hampir satu tahun telah ditetapkan. Hal tersebut tidak mengubah keadaan mereka. Anak-anak yang tersebar di berbagai daerah di Gaza masih menunggu kapan agresi ini akan berakhir. Di sisi lain, kondisi di Deir Balah, Khan Younis, Nuseirat, dan Al-Maghazi terus menampung keluarga pengungsi dari berbagai penjuru Gaza, sehingga tenda-tenda kian sesak dan layanan air, kesehatan, serta sanitasi masih sangat tertekan. Di Kota Gaza, banyak keluarga yang masih tinggal di tenda atau bangunan yang rusak, sementara perpindahan penduduk ke bagian barat kota dan ke selatan terus meningkat sepanjang bulan.
Serangan terus terjadi. Pada 24 Agustus, misalnya, terjadi sebuah serangan di dekat Deir Balah yang merusak sumur air dan fasilitas desalinasi. Keduanya merupakan sumber air yang melayani lebih dari 4.000 orang. Selain itu, gudang kemanusiaan yang berdiri di sana pun ikut menjadi sasaran dan hancur. Adapun di Khan Younis, terjadi serangan udara di kawasan padat penduduk, termasuk di dekat Rumah Sakit Al-Amal pada awal bulan. Keadaan serupa di wilayah lain yang mengalami kerusakan infrastruktur. Hal ini mengakibatkan banyak keluarga dari ribuan anak yatim belum bisa kembali ke rumahnya dengan aman, sehingga tim di lapangan cukup kesulitan dalam menjangkau mereka.
Sementara itu, tahun ajaran baru sudah dekat. Anak-anak sebenarnya antusias bertemu teman dan kembali belajar lagi. Namun, kecemasan mendalam tetap menghampiri tentang bagaimana mereka bisa bersekolah secara teratur di tengah sekolah yang rusak dan perlengkapan yang kurang. Tempat penampungan yang padat, air bersih yang terbatas, dan suhu tinggi membuat mereka rentan sakit. Beberapa di antaranya sengaja menghias tenda pengungsiannya menjadi sebuah tempat belajar agar pendidikan terus berjalan. Meski tanpa perlengkapan sekolah seperti alat tulis, seragam, dan tas, mereka tetap bertekad untuk tetap belajar demi masa depan yang lebih baik.
Tentang Cinta yang Sampai Kepada 1.886 Yatim Gaza
Selama tiga tahun genosida berlangsung, kehancuran di Gaza terjadi di mana-mana. Masyarakat tercekik oleh perihnya rasa lapar dan dahaga. Mereka menghadapi pengungsian yang berulang, tenda-tenda yang kian sesak, air bersih yang sulit didapat, serangan yang tak kunjung reda meskipun gencatan senjata diberlakukan. Di antara mereka, ribuan anak yatim Gaza menjalani kesusahan itu semua tanpa ayah, hanya dengan ibu atau pengasuh yang berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Selama tiga tahun itu pula, Adara Relief International konsisten mengirimkan cinta masyarakat Indonesia berupa bantuan uang tunai setiap bulan. Pada Agustus hingga akhir September 2026 ini, cinta itu sampai kepada 1.886 anak yatim penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP). Bantuan ini dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang mencegah mereka dari kelaparan, serta kebutuhan dasar lainnya. Bagi mereka pula, bantuan ini lebih dari sekadar uang. Dia menjadi tanda bahwa mereka tidak terlupakan, dan bahwa ada orang-orang yang jauh di belahan bumi lainnya yang terus memikirkan mereka.
Salah satu kisahnya berasal dari Zain Jazzar, seorang anak yatim yang tinggal bersama ibunya di kamp pengungsian. Kisah ini menunjukkan bagaimana bantuan bulanan ini menyentuh hidup yang penuh keterbatasan. Suatu hari, rasa lapar membawa langkah kaki Zain dan ibu ke sebuah dapur umum untuk mendapatkan makanan. Namun, ketika mereka kembali, tenda tempat mereka berteduh tela terbakar habis. Tak tersisa sedikit pun. Mereka kehilangan tempat tinggal. Selain itu, makanan yang sangat terbatas membuat mereka hanya mampu makan sekali sehari. Alhamdulillah, dengan bantuan dari DYP, kini kebutuhan Zain dan ibunya dapat terpenuhi. Setidaknya, mereka bisa memenuhi kebutuhan pangan harian mereka: bisa makan lebih dari sekali sehari.
Bantuan bulanan diberikan oleh tim Adara di lapangan. Tim melakukannya dengan penuh perjuangan dan kehati-hatian. Kondisi di lapangan yang tidak menentu membuat tim harus bergerak dengan strategi yang cermat, mengutamakan keselamatan bersama, serta siap siaga menghadapi perubahan situasi yang terjadi sewaktu-waktu. Tim berupaya agar bantuan dari seluruh Sahabat Adara sampai ke tangan 1.886 anak yatim di Gaza. Salah satu upaya yang tim lakukan adalah membagi anggota di lapangan berdasarkan wilayah kerja masing-masing. Hal ini bertujuan agar mereka dapat menjangkau keluarga yatim dan menyalurkan bantuan ini tepat waktu. Meskipun demikian, pengiriman dokumentasi terkadang mengalami keterlambatan. Tim tetap berupaya agar bantuan bisa sampai meskipun prosesnya tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal.
Berikut merupakan peta sebaran penerima manfaat program Dekap Yatim Palestina (DYP) yang tercatat oleh tim di lapangan sepanjang bulan Agustus hingga bulan September.
| WIlayah | Jumlah Anak Asuh | Gambaran Umum Kondisi Anak Asuh |
| Deir Balah | 385 | Di wilayah ini, anak-anak menghadapi kepadatan penduduk yang sangat tinggi dan tekanan berkelanjutan pada layanan air, kesehatan, dan sanitasi. |
| Kota Gaza | 360 | Anak-anak mengalami tekanan kemanusiaan yang berat, karena daerah ini masih sangat terdampak kehancuran, ketidakamanan, dan pengungsian berulang. Banyak keluarga yatim yang tinggal di tenda atau bangunan yang rusak. |
| Khan Younis | 228 | Selain menampung banyak keluarga pengungsi, wilayah ini juga terancam pada aktivitas militer dan serangan udara. Insiden keamanan dan perintah pengungsian memengaruhi keluarga dan operasi kemanusiaan. |
| Rafah | 211 | Wilayah ini tetap menjadi yang paling parah terdampak dan rusak akibat agresi. Anak-anak terus menghadapi berbagai insiden yang mengancam stabilitas hidup. |
| Gaza Utara | 48 | Anak-anak di wilayah ini menghadapi kondisi kemanusiaan yang parah sepanjang Agustus. Kehancuran yang luas, terbatasnya akses ke layanan esensial, dan kekhawatiran keamanan yang berlanjut memengaruhi penduduk dan keluarga anak yatim sebagai pengungsi. |
| Jabalia | 310 | Jabalia tetap sangat terdampak kehancuran dan ketidakamanan. Keluarga di sini mengalami pengungsian dan kondisi hidup yang sulit, sementara jalan, rumah, dan infrastruktur esensial yang rusak membatasi akses ke layanan. |
| Beit Lahia | 21 | Di wilayah ini, anak-anak terus menghadapi aktivitas militer. Kerusakan tambahan pada infrastruktur permukiman dan pendidikan juga terjadi cukup tinggi. |
| Nuseirat | 140 | Wilayah ini menghadapi insiden keamanan dan serangan berulang di lokasi sekitarnya, sementara kekurangan air, bahan tempat berlindung, layanan kesehatan, dan sanitasi terus memengaruhi kehidupan sehari-hari. Keluarga yang tinggal di tempat penampungan sementara sangat rentan terhadap pengungsian lanjutan dan memburuknya kondisi hidup. |
| Beit Hanoun | 36 | Banyak keluarga masih mengungsi karena luasnya kerusakan dan ketidakamanan yang berlanjut. Infrastruktur dan layanan esensial masih sangat terganggu, sehingga kepulangan yang aman dan berkelanjutan sulit dilakukan bagi banyak penduduk. |
| Al-Maghazi | 147 | Wilayah ini masih terdampak kepadatan, infrastruktur yang rusak, dan terbatasnya akses ke layanan esensial. Keluarga menghadapi ketidakamanan yang berlanjut serta kemungkinan pengungsian lebih lanjut, sementara kebutuhan akan tempat tinggal, makanan, air, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial tetap tinggi. |
Angka ini bukan hanya sebatas data yang tercatat di atas kertas putih dan laporan semata. Dia merupakan bukti kasih sayang masyarakat Indonesia untuk anak-anak yatim di Gaza yang masih bertahan di tengah gelombang pengungsian. Setiap rupiah dan bantuan yang tersalurkan menjadi penopang harapan, menghadirkan secercah kehangatan, serta memastikan mereka tidak berjuang sendirian di tengah krisis yang membayangi masa depan mereka.
Tantangan Tim di Lapangan
Perjalanan penyaluran bantuan ini tidak selalu mulus. Tim di lapangan harus bekerja di bawah ancaman serangan dan pengeboman yang terus berlangsung, bahkan beberapa di antaranya ada yang telah syahid terlebih dahulu. Selain itu, pembatasan akses serta kerusakan infrastruktur jalan menyulitkan tim untuk menjangkau sebagian keluarga dan memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Di sisi lain, keterbatasan dana dan pasokan kebutuhan esensial turut memengaruhi kesinambungan serta skala program bantuan ini. Namun, semua ini akan tetap dilakukan sampai tuntas untuk membantu mereka semua.
Bagi anak-anak, krisis yang berkepanjangan dan paparan berulang terhadap peristiwa traumatis meningkatkan kebutuhan dukungan psikososial, baik untuk mereka maupun pengasuhnya. Dengan tahun ajaran baru serta musim hujan dan dingin yang kian dekat, keluarga juga membutuhkan lebih banyak: pakaian untuk sekolah, perlengkapan belajar, dan perlindungan tempat tinggal.
Terima Kasih, Orang Tua Asuh Yatim Gaza di Indonesia!
Di tengah kehancuran yang belum berhenti, kebaikan Sahabat Adara yang ikut serta dalam program DYP ini, menjadi cahaya bagi anak-anak yatim Gaza. Setiap bulan, di tenda-tenda pengungsian yang sesak, ada ibu yang bisa menyiapkan makanan, ada anak yang bisa memakai pakaian yang layak, dan ada keluarga yang merasa tidak sendirian. Semua itu berawal dari keputusan sederhana Sahabat Adara untuk menjadi orang tua asuh bagi anak yang bahkan belum bertemu dengan mereka. Terima kasih telah menjaga mereka dengan konsisten, bulan demi bulan, sehingga cinta dari Indonesia benar-benar sampai ke tangan mereka.
Saat ini, sekitar seribu delapan ratus anak yatim telah mendapatkan dukungan melalui DYP. Sedangkan di Gaza saat ini, masih ada ribuan anak yang menantikan dekapan hangat dari orang tua asuh. Bantuan ini bukan sekadar membuat mereka kenyang, tetapi membantu mereka menjalani kehidupan yang layak dan menyiapkan generasi yang kelak akan membangun Gaza. Oleh karena itu, mari kita menjadi suara bagi mereka: ceritakan kisah mereka kepada orang-orang terdekat kita, ajak mereka untuk ikut serta dalam program DYP ini, dan jangan biarkan upaya ini berhenti di sini. Semoga setiap kebaikan yang mengalir menjadi sedekah jariyah yang tak terputus, dan semoga anak-anak yatim Palestina senantiasa berada dalam lindungan-Nya, hingga tiba hari ketika mereka dapat kembali tersenyum tanpa beban di hati.
Perwakilan Dokumentasi Penyerahan Bantuan Program DYP Bulan September

Baca selengkapnya kabar anak asuh Program DYP bulan Agustus “Di Balik Setiap Nama, Ada Rindu yang Belum Usai — Laporan Program Dekap Yatim Palestina Bulan Agustus“





