Tindakan penggusuran rumah warga Palestina kembali terjadi di wilayah Al-Quds bagian timur pada Selasa (6/10). Pasukan Israel merobohkan sebuah bangunan lima lantai yang menaungi sekitar 70 warga Palestina.
Bangunan yang terletak di kawasan Al-Tur tersebut terdiri dari 10 unit apartemen. Otoritas Al-Quds menyebut penggusuran rumah Palestina terjadi setelah warga menerima pemberitahuan pembongkaran terakhir.
Pemerintah setempat menyatakan bahwa warga telah menghadapi perintah pembongkaran serta denda selama bertahun-tahun, sementara otoritas Israel terus menolak memberikan izin pembangunan kepada mereka. Sebelum pembongkaran, pasukan Israel memaksa para penghuni untuk mengosongkan apartemen tersebut. Menteri ekstremis Israel, Itamar Ben-Gvir, bahkan terpantau mendatangi lokasi kejadian dengan pengawalan ketat kepolisian.
Pemerintah Al-Quds menyebut penggusuran rumah Palestina sebagai bagian dari tekanan terhadap penduduk di Al-Quds bagian timur. Sepanjang Juli hingga September, tercatat 139 operasi pembongkaran dan perataan lahan Palestina oleh Israel.
Selain itu, otoritas Israel menerbitkan 150 perintah pembongkaran, pengusiran, dan penyitaan properti. PBB juga mencatat sekitar 170 bangunan Palestina telah dihancurkan di Al-Quds bagian timur sejak awal 2026.
Sebagian besar pembongkaran menggunakan alasan ketiadaan izin pembangunan. Namun, PBB menyatakan warga Palestina hampir tidak mungkin memperoleh izin tersebut.
Pada saat bersamaan, kekerasan juga meluas di berbagai wilayah Tepi Barat. Di Aqraba, dua warga Palestina mengalami luka-luka akibat serangan pemukim Israel. Seorang pemuda terkena tembakan sementara seorang pria lainnya menjadi korban pemukulan.
Kekerasan mematikan juga terjadi di Burqa. Seorang warga Palestina terbunuh dan delapan lainnya terluka ketika para petani zaitun diserang saat sedang beraktivitas. Dalam insiden tersebut, tim dari Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa kendaraan dan petugas mereka turut menjadi sasaran serangan saat berupaya mengevakuasi para korban.
Dengan demikian, penggusuran rumah Palestina berlangsung bersamaan dengan serangan terhadap warga dan properti. Data Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok mencatat lebih dari 14.742 serangan sejak Oktober 2023.
Sumber: MEMO








