Hijrah tidak pernah lahir dari jalan yang mudah. Di balik setiap langkah meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan kenyamanan hidup, selalu ada pertanyaan yang menghantui para pejuangnya: Apakah semua pengorbanan ini diterima oleh Allah?
Kegelisahan semacam itu pernah para sahabat Rasulullah ﷺ rasakan. Dalam sejumlah riwayat tafsir disebutkan bahwa setelah terjadi peristiwa ekspedisi Abdullah bin Jahsy, mereka diliputi kecemasan. Perjalanan hijrah telah mereka tempuh, berbagai kesulitan telah mereka hadapi, bahkan mereka rela mempertaruhkan jiwa di jalan Allah. Namun setelah muncul tuduhan bahwa mereka telah berperang pada bulan haram, timbul kekhawatiran di hati mereka. Apakah seluruh perjuangan itu akan sia-sia? Apakah hijrah dan jihad mereka masih bernilai di sisi Allah?
Di tengah kegelisahan itu, Allah menurunkan firman-Nya:
(إِنَّ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِینَ هَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَرۡجُونَ رَحۡمَتَ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218)
Ayat ini bukan sekadar kabar tentang pahala. Ia adalah jawaban Allah atas kegelisahan para pejuang hijrah. Allah menegaskan bahwa iman, hijrah, dan jihad bukanlah perjuangan yang sia-sia. Justru orang-orang yang menempuh jalan itulah yang paling berhak menggantungkan harapan kepada rahmat-Nya. Di sinilah letak keindahan ayat tersebut: Allah tidak hanya menilai hasil perjuangan, tetapi juga menghargai setiap langkah yang ditempuh dengan keimanan dan keikhlasan.
Tiga Karakter Pejuang Hijrah

Allah tidak menyebut para pejuang hijrah hanya dengan satu sifat. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 218, Allah menyusun tiga karakter yang saling berkaitan: beriman (آمَنُوا)، berhijrah (هَاجَرُوا)، dan berjihad (جَاهَدُوا). Urutan ini menunjukkan bahwa hijrah bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, melainkan perjalanan yang dibangun di atas fondasi iman dan dibuktikan dengan kesungguhan.
1. Beriman (آمَنُوا)
Perjalanan hijrah selalu dimulai dari iman. Sebelum seseorang mampu meninggalkan kebiasaan buruk, lingkungan yang merusak, atau bahkan kampung halamannya untuk Allah, ia harus memiliki keyakinan yang kokoh kepada-Nya. Imanlah yang melahirkan keberanian untuk memilih rida Allah di atas kenyamanan dunia. Oleh karena itu, Allah mendahulukan kata āmānū sebelum hijrah dan jihad.
2. Berhijrah (هَاجَرُوا)
Hijrah dalam ayat ini bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Bagi para sahabat, hijrah berarti meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta benda, dan seluruh kenyamanan demi menjaga agama mereka. Kata hājarū berasal dari akar kata hajr (هجر) yang berarti meninggalkan atau berpisah. Makna ini mengajarkan bahwa hakikat hijrah adalah keberanian meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kedekatan dengan Allah.
3. Bersungguh-sungguh (جَاهَدُوا)
Setelah beriman dan berhijrah, perjuangan belum selesai. Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang jāhadū, yaitu bersungguh-sungguh di jalan-Nya. Kata ini berasal dari akar kata al-juhd (الجُهْد), yang bermakna mengerahkan seluruh kemampuan, tenaga, dan kesungguhan meskipun harus menanggung kepayahan. Dengan demikian, jihad dalam ayat ini menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar keputusan sesaat, tetapi komitmen untuk terus berjuang mempertahankan keimanan hingga akhir hayat.
Kesungguhan dalam berhijrah tidak akan pernah sia-sia. Allah bahkan memberikan janji khusus bagi orang-orang yang terus berjuang di jalan-Nya.
(وَٱلَّذِینَ جَـٰهَدُوا۟ فِینَا لَنَهۡدِیَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِینَ)
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Menariknya, Allah menggunakan kata سُبُلَنَا (subulanā), bukan سَبِيلَنَا (sabīlanā). Artinya, Allah tidak hanya membukakan satu jalan, tetapi banyak jalan menuju keridaan-Nya. Semakin sungguh-sungguh seorang hamba menjaga imannya, berhijrah dari kemaksiatan, dan berjuang dalam ketaatan, semakin banyak pula pintu kebaikan yang Allah bukakan untuknya. Kebaikan itu dapat berupa bertambahnya ilmu, dipertemukan dengan lingkungan yang saleh, dimudahkan beramal, dikuatkan dalam menghadapi ujian, dilapangkan rezekinya, atau diberi kesempatan untuk berdakwah dan memberi manfaat kepada sesama.
Inilah kabar gembira bagi setiap pejuang hijrah. Tugas kita adalah terus bersungguh-sungguh di jalan Allah. Adapun jalan-jalan menuju kebaikan, Allah sendiri yang akan membukakannya.
Allah sebagai Tujuan Hijrah

Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, berganti lingkungan, atau memulai kehidupan baru. Hal paling penting dari hijrah adalah memastikan ke mana langkah akan ditujukan. Sebab, seseorang bisa saja meninggalkan banyak hal, tetapi jika bukan karena Allah, maka ia belum mencapai hakikat hijrah.
Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika beliau meninggalkan kaumnya yang tenggelam dalam kesyirikan, beliau tidak mengatakan bahwa dirinya sedang menuju negeri tertentu. Beliau justru menegaskan tujuan hijrahnya:
(وَقَالَ إِنِّی مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّیۤۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ)
“Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku berhijrah menuju Tuhanku. Sungguh, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'” (QS. Al-‘Ankabut: 26)
Ungkapan “ilā rabbī” (menuju Tuhanku) menunjukkan bahwa tujuan utama hijrah bukanlah sebuah tempat, melainkan Allah. Negeri hanyalah sarana, sementara rida Allah adalah tujuan.
Allah kemudian menyelamatkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth menuju negeri yang diberkahi, agar mereka dapat menjaga keimanan dan melanjutkan dakwah.
(وَنَجَّیۡنَـٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِی بَـٰرَكۡنَا فِیهَا لِلۡعَـٰلَمِینَ)
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke negeri yang Kami berkahi untuk seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 71)
Ayat ini mengajarkan bahwa hijrah yang benar bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi berpindah menuju lingkungan yang lebih mendukung keimanan dan dakwah. Ketika Allah menjadi tujuan, maka tempat yang dipilih pun menjadi wasilah untuk semakin dekat kepada-Nya, menjaga agama, dan menyebarkan kebaikan kepada manusia.
Momentum Berhijrah

Muharram mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ, tetapi pesan hijrah tidak berhenti pada perpindahan dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perjalanan hati menuju Allah. Ia dimulai dengan iman, diwujudkan dengan keberanian meninggalkan segala yang menjauhkan diri dari-Nya, lalu dipertahankan dengan kesungguhan dalam ketaatan.
Dengan demikian, setiap muslim dapat menjadi pejuang hijrah. Bukan hanya mereka yang berpindah negeri, melainkan juga mereka yang meninggalkan dosa menuju taubat, meninggalkan kelalaian menuju ketaatan, meninggalkan lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang menumbuhkan iman, serta meninggalkan kecintaan kepada dunia menuju kecintaan kepada Allah dan akhirat.
Allah tidak menjanjikan bahwa jalan hijrah akan selalu mudah. Namun Allah memberikan kabar yang jauh lebih menenangkan: orang-orang yang beriman, berhijrah, dan bersungguh-sungguh di jalan-Nya adalah mereka yang paling berhak berharap atas rahmat-Nya.
Semoga pergantian tahun kali ini menjadi awal hijrah yang lebih bermakna, yang mengantarkan hati untuk semakin dekat kepada Allah. Sebab, sebagaimana yang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam contohkan, tujuan akhir setiap hijrah bukanlah sebuah tempat, melainkan Allah semata.
Isma Muhsonah Sunman, S.Ag., M.Pd.
Dosen STAI DI Al-Hikmah Jakarta dan Pengajar Al-Qur`an di Syifaur Rahman Islamic Club Bogor








