Pernikahan di Gaza kini bukan lagi sekadar langkah menuju kehidupan berkeluarga. Sebaliknya, pernikahan di Gaza berubah menjadi tantangan ekonomi dan sosial akibat agresi dan blokade yang terus berlangsung. Selain itu, krisis perumahan dan tingginya biaya hidup membuat banyak pemuda menunda pernikahan tanpa batas waktu.
Hamza Al-Bayouk, seorang pemuda Gaza, mengaku hanya menginginkan satu kamar sederhana untuk tinggal bersama istrinya. Namun, ia kesulitan mewujudkannya karena minimnya bahan bangunan dan terbatasnya pilihan tempat tinggal. Akibatnya, harga sewa rumah melonjak, sementara pendapatan keluarga terus menurun.
Selain perumahan, pernikahan di Gaza juga terdampak kenaikan harga perabot rumah tangga. Harga satu set kamar tidur bekas bahkan melampaui 10.000 shekel (USD 3.300). Karena itu, banyak calon pengantin mengurangi kebutuhan rumah tangga atau menunda pernikahan.
Baca juga: “91.000 Lebih Pelajar Palestina Ikuti Ujian Meski 65 Siswa Ditahan”
Di sisi lain, biaya pesta juga berubah. Ashraf Abu Issa memilih menggelar pesta sederhana dengan biaya sekitar 2.000 shekel (USD 650). Meski demikian, setelah pesta berakhir, banyak pasangan harus tinggal di tenda atau hunian sementara yang minim fasilitas.
Lebih lanjut, mahar dan pembelian emas ikut menurun. Kenaikan harga emas serta tekanan ekonomi membuat keluarga menyesuaikan tradisi pernikahan dengan kondisi yang ada.
Pakar ekonomi Khaled Abu Amer menjelaskan bahwa Gaza menghadapi guncangan ekonomi multidimensi yang turut menyebabkan meroketnya biaya hidup dan biaya pernikahan di Gaza. Sementara itu, sosiolog Abdullah Al-Khatib menilai krisis ini memengaruhi kondisi psikologis generasi muda. Rasa cemas, frustrasi, dan ketidakpastian semakin meningkat. Jika situasi berlanjut, pernikahan di Gaza berisiko semakin tertunda dan stabilitas keluarga akan semakin terancam.
Sumber: Palinfo







