Peneliti urusan Al-Quds (Yerusalem) Ziad Ibhais, memperingatkan bahwa kelahiran baru seekor sapi merah di wilayah Al-Jalil (Galilea) merupakan perkembangan penting bagi kelompok-kelompok Temple. Kelompok tersebut berupaya menciptakan kondisi religius dan ideologis untuk memperluas aktivitas Yahudi di kawasan Masjid Al-Aqsa.
Menurut Ibhais, Temple Institute, yang terkenal sebagai organisasi utama di balik gerakan Temple, memandang kelahiran sapi tersebut sebagai peristiwa dengan makna keagamaan yang besar. Lembaga itu bahkan mengaitkannya dengan konflik yang sedang berlangsung di utara Israel (Palestina 1948). Mereka menyebutnya sebagai kemungkinan “tanda ilahi” dalam keyakinan tertentu terkait sapi merah.
Ibhais menjelaskan bahwa anak sapi yang baru lahir ini berbeda dari lima sapi merah yang diimpor dari Texas pada 2022. Kali ini, sapi tersebut lahir di Palestina bersejarah. Hal ini mengatasi salah satu keberatan sebagian rabi yang menilai sapi sebelumnya tidak lahir di wilayah yang mereka sebut sebagai “Tanah Israel”.
Baca juga : “Korban Jiwa di Tepi Barat Lampaui 17 Tahun Sebelumnya”
Dalam keyakinan kelompok Temple, abu sapi merah memiliki peran penting dalam ritual penyucian dari kenajisan akibat kontak dengan jenazah. Sebagian otoritas keagamaan Yahudi menganggap ritual ini sebagai syarat sebelum memasuki area yang mereka kaitkan dengan kompleks Al-Aqsa.
Oleh karena itu, organisasi-organisasi Temple memberikan perhatian besar terhadap proyek sapi merah. Mereka melihatnya sebagai sarana untuk mendorong lebih banyak kalangan religius Yahudi dalam mengunjungi kawasan Al-Aqsa.
Ibhais menambahkan bahwa Temple Institute telah menjalankan program sapi merah sejak 1986. Namun, beberapa kandidat sapi merah sebelumnya gagal memenuhi syarat-syarat ketat dalam tradisi keagamaan saat mencapai usia yang diperlukan untuk ritual tersebut.
Anak sapi terbaru ini bernama Tamima. Temple Institute bahkan mengadakan sesi edukasi khusus untuk membahas perkembangannya. Menurut Ibhais, hal ini menunjukkan betapa pentingnya proyek sapi merah dalam agenda yang lebih luas terkait Al-Aqsa. Proyek ini juga berkaitan dengan aspirasi pembangunan kembali Bait Suci Yahudi di masa depan.
Sumber: Palinfo








