Surat Kabar Haaretz menyoroti perbedaan respons pejabat Israel terhadap kekerasan, dengan menyebut penghancuran patung Yesus di Lebanon lebih cepat memicu kecaman dibanding kematian ribuan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.
Video yang beredar menunjukkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus di Debel, Lebanon selatan. Insiden ini segera mendapat kecaman dari Benjamin Netanyahu dan Gideon Saar, sementara militer menjatuhkan sanksi kepada pelaku.
Namun, Haaretz mencatat respons serupa jarang muncul terhadap tindakan selama operasi militer di Gaza dan Tepi Barat. Dalam dua tahun terakhir, lebih dari 72.000 warga Palestina terbunuh, sementara dokumentasi menunjukkan berbagai pelanggaran oleh tentara, termasuk perusakan rumah dan perayaan serangan.
Kasus dugaan kekerasan terhadap tawanan Palestina serta penembakan warga sipil juga minim akuntabilitas. Kepala Staf militer Eyal Zamir bahkan menyetujui kembalinya sejumlah tentara yang terlibat pelanggaran ke tugas aktif.
Kritik juga datang dari Munther Isaac, pendeta di Ramallah, yang menilai kemarahan publik seharusnya tidak berhenti pada simbol. Ia menegaskan bahwa fokus utama harus pada penargetan warga sipil, penghancuran Gaza dan Lebanon, serta pelanggaran martabat manusia.
Pernyataan ini muncul di tengah kecaman luas dari kalangan keagamaan, termasuk gereja di Al-Quds (Yerusalem), terhadap penghancuran simbol religius tersebut. Namun, kritik menekankan bahwa penderitaan manusia seharusnya menjadi pusat perhatian.
Laporan ini memperlihatkan pola empati selektif, yakni respons terhadap pelanggaran yang tidak sebanding dengan skala korban di lapangan.








