Ratusan mahasiswa di Jalur Gaza menggelar aksi protes menuntut pembukaan kembali perlintasan, khususnya Rafah, setelah mereka gagal melanjutkan studi ke luar negeri meski telah mengantongi beasiswa dan dapat berkuliah di berbagai universitas internasional.
Aksi yang digelar di Kota Gaza ini diinisiasi oleh gerakan akar rumput “Between the Dream and the Crossing”. Para peserta membawa paspor sebagai simbol kesiapan mereka untuk berangkat, sekaligus menyoroti ironi antara peluang pendidikan yang tersedia dan akses yang tertutup.
Mahasiswa menilai penutupan perbatasan telah menggagalkan masa depan akademik mereka akibat terancam kehilangan satu semester atau bahkan keseluruhan kesempatan studi. “Kami ingin belajar dan melanjutkan pendidikan seperti mahasiswa lain di dunia,” ujar Amir Fojou, yang menyebut ribuan pelajar di Gaza terdampak pembatasan oleh Israel.
Selain akses keluar yang tertutup, kondisi belajar di dalam Gaza juga semakin sulit. Pemadaman listrik, keterbatasan internet, dan kekurangan bahan bakar membuat proses pendidikan terganggu. Banyak mahasiswa yang telah lulus di kampus luar negeri akhirnya tidak dapat berangkat, memicu tekanan psikologis yang meningkat.
Dalam orasinya, Nagham Abu Ghali menegaskan bahwa generasi muda Gaza tidak pernah menunggu peluang, tetapi berjuang menciptakannya di tengah keterbatasan. Namun, perang dan blokade telah menghancurkan infrastruktur sekaligus menghambat akses pendidikan.
Sementara itu, Saeed Barbakh menyebut aksi ini mewakili generasi yang tetap bertekad untuk berhasil meski terhambat. Ia menekankan pentingnya akses yang adil agar mahasiswa dapat melanjutkan studi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Para penyelenggara mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak, membuka perlintasan, dan memastikan adanya jalur aman bagi mahasiswa agar dapat mengakses hak dasar mereka atas pendidikan.
Sumber: Palinfo








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)