Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan lonjakan signifikan kekerasan di Jalur Gaza, dengan jumlah insiden mencapai level tertinggi sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa antara 12 hingga 18 April, insiden seperti penembakan, serangan artileri, dan serangan udara meningkat hingga 46 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Wilayah Gaza utara, Kota Gaza, dan Deir al-Balah mencatat peningkatan kekerasan paling tajam di Jalur Gaza.
Lonjakan ini terjadi di tengah laporan berkelanjutan mengenai pelanggaran gencatan senjata. Data otoritas Gaza menunjukkan lebih dari 2.400 pelanggaran sejak kesepakatan berlaku, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa dan ribuan luka-luka.
Di sisi kemanusiaan, PBB memperingatkan bahwa pembatasan akses terus menghambat penanganan ancaman bahan peledak yang belum meledak. Meski edukasi dan penyuluhan telah menjangkau puluhan ribu warga, upaya pembersihan tidak dapat berjalan optimal tanpa masuknya peralatan khusus.
“Pembatasan terhadap peralatan untuk penanganan bahan peledak terus menghambat respons kemanusiaan secara keseluruhan,” ujar Dujarric.
Sementara itu, situasi di Tepi Barat juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Mengutip data OCHA, PBB mencatat puluhan warga Palestina terbunuh dan ratusan lainnya terluka dalam tiga bulan pertama tahun ini akibat kekerasan oleh pasukan Israel dan pemukim.
Selain itu, lebih dari 500 serangan pemukim kolonial Israel telah menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan properti.
PBB menegaskan bahwa serangan terhadap warga sipil harus diselidiki dan pelaku harus melakukan pertanggungjawaban. Sebagai pihak yang berkuasa, Israel seharusnya memiliki kewajiban untuk melindungi warga sipil sesuai hukum humaniter internasional.








![Seorang pria Palestina dan beberapa anak berdiri di depan bangunan yang rusak berat, dikelilingi besi-besi beton yang terbuka dan puing-puing, di Kota Gaza [Reuters/Mahmoud Issa]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/FOTNASPSKNKU3P3PJRLMSN3J4E-350x250.jpg)