Serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut meski gencatan senjata telah berlangsung selama 178 hari. Serangan udara, artileri, dan penembakan terjadi di berbagai wilayah, termasuk Kota Gaza dan Khan Younis sehingga menambah korban jiwa serta memperburuk krisis kemanusiaan.
Pada 6 April, sedikitnya 10 warga Palestina terbunuh akibat serangan udara yang menargetkan sebuah sekolah di kamp pengungsi al-Maghazi, Gaza tengah. Sementara itu, puluhan orang lainnya juga terluka.
Kementerian Kesehatan Palestina mencatat bahwa dalam 24 jam terakhir, 10 orang terbunuh dan 144 lainnya luka-luka. Sehari sebelumnya, tujuh warga juga terbunuh, termasuk seorang pekerja yang terlibat dalam operasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan keprihatinannya dan menyebut insiden tersebut tengah diselidiki.
Baca juga : “Israel Lakukan 1.450 Pelanggaran Gencatan Senjata dalam 111 hari“
Sejak gencatan senjata berlaku lima bulan lalu, sedikitnya 733 warga Palestina telah terbunuh, termasuk ratusan anak-anak. Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, lebih dari 72.300 orang telah terbunuh dan lebih dari 170.000 lainnya terluka.
Di sisi lain, pembatasan bantuan kemanusiaan dan pergerakan pasien terus Israel berlakukan. WHO bahkan menghentikan sementara evakuasi medis melalui Rafah, yang berdampak pada ribuan pasien yang membutuhkan perawatan mendesak.
Kondisi ini memperparah krisis kesehatan di Gaza. Kementerian Kesehatan menyebut situasi telah mencapai tingkat bencana. Hanya tersedia sekitar setengah obat-obatan esensial, sementara sebagian besar bahan medis mulai habis. Layanan penting, termasuk perawatan kanker dan operasi jantung, turut terganggu.
Meski gencatan senjata telah diumumkan, kondisi di lapangan menunjukkan kekerasan yang terus berlangsung serta memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza.








